Lewati ke isi

Prasasti Śaṅkara

prasasti-syangkara

Prasasti Śaṅkara semula berada di museum koleksi Adam Malik. Setelah museum ini bubar, pemilik dan tempat disimpannya prasasti ini sekarang tidak diketahui1.

Dalam prasasti ini, disebutkan ada seorang tokoh bernama Śaṅkara. Setelah ayahnya meninggal, Śaṅkara memeluk agama Buddha dan mendirikan sebuah candi. Dengan membandingkannya dengan naskah Carita Parahyangan, Poerbatjaraka menafsirkan tokoh Śaṅkara ini dikaitkan dengan Rakai Panangkaran / Rakai Panaraban, dan ayahnya adalah Rakai Sanjaya. Sanjaya menyuruh anaknya Rakai Panaraban untuk berpindah agama karena agama Śiwa yang dianutnya ditakuti oleh semua orang. Di lain pihak, Arlo Griffiths berpendapat bahwa Śaṅkara bukanlah raja melainkan seorang rohaniawan yg memelihara tempat ibadah atau bangunan suci. Ia berpendapat bahwa prasasti ini merupakan prasasti non-kerajaan yang tidak ada hubungannya dengan Dinasti Syailendra.

Data Artefak

Jenis: Prasasti
Tahun: Abad ke-8 M
Aksara: Kawi
Bahasa: Sanskerta
Lokasi: Tidak diketahui

Inskripsi

# Kawi (Rekonstruksi) Latin
1 ⎼⎼⎼𑼡𑽂𑼮𑼁𑼮𑼶𑼣𑼶𑼡𑽂𑼮𑼴𑼱𑽂𑼮𑼒𑼪𑼦𑼶𑼣𑼣𑼡𑼃𑼰𑼜𑽂𑼱𑼸𑼮𑼂𑼠𑼁𑼮𑽂𑼫𑼫𑼴𑼂𑼢𑼪𑽂𑼤𑼂𑼪𑽂𑼫𑼁 ⎼ ⎼ ⎼ twaƞ widitwā swakam api dadataḥ ṣaṭsuwarṇaƞ wyayārtham dharmyaƞ
2 𑼫𑼥𑽂𑼪𑼴𑼡𑽂𑼢𑼮𑼴𑼒𑽂𑼫𑼥𑽂𑼡𑼣𑼶𑼲𑼱𑼒𑼬𑼮𑼴𑼠𑼷𑼡𑼶𑼒𑼺𑼡𑽂𑼮𑼴𑼦𑽂𑼬𑼡𑼶𑼙𑽂𑼛𑼴𑼁𑼦𑽂𑼬𑼷𑼡𑽂𑼫𑼴 yan māttha wākyan tad iha sa karawāṇīti kṛtwā pratijñāƞ prītyā
3 𑼦𑽂𑼬𑼡𑽂𑼫𑼔𑽂𑼬𑼲𑼷𑼡𑽂𑼡𑼣𑽂𑼔𑼡𑼒𑼦𑼜𑼪𑼥𑼴𑼱𑽂𑼡𑼴𑼡𑼣𑼡𑽂𑼡𑼪𑽂𑼦𑽂𑼬𑼲𑼺𑼰𑽂𑼜𑼃 • 𑼲𑼿𑼡𑽂𑼮𑼴 pratyagrahīt tad gatakapaṭamanās tātadattam prahṛṣṭaḥ (1) • aitwā
4 𑼡𑼸𑼰𑽂𑼜𑼾𑼴𑼦𑼶𑼯𑼺𑼠𑽂𑼮𑼥𑽂𑼮𑼗𑼥𑼪𑼶𑼡𑼶𑼔𑼸𑼬𑼸𑼱𑽂𑼱𑼡𑽂𑼫𑼩𑼴𑼮𑼁𑼮𑼶𑼙𑼴𑼥𑼥𑽂𑼒𑼴𑼭𑼾𑼥𑼿 tuṣṭo pi śṛṇwan wacanam iti gurus satyabhāwaƞ wijānan kālenai-
5 𑼮𑼴𑼗𑼶𑼬𑼾𑼠𑼔𑽂𑼭𑼦𑼶𑼡𑼡𑼥𑼸𑼮𑼭𑼱𑽂𑼡𑼷𑼮𑽂𑼬𑼣𑼴𑼲𑼙𑽂𑼮𑼬𑼾𑼠𑼣𑼸𑼃𑼓𑼁𑼱𑼾𑼴𑼰𑽂𑼜𑼾𑼴 wācireṇa glapitatanuwalas tīwradāhajwareṇa duḥkhaƞ so ṣṭo
6 𑼣𑼶𑼥𑼴𑼥𑼶𑼙𑽂𑼮𑼬𑼒𑼺𑼡𑼪𑼮𑼯𑼱𑽂𑼱𑼾𑼴𑼞𑼮𑼴𑼥𑽂𑼱𑽂𑼮𑼂𑼔𑽂𑼔𑼡𑼾𑼴𑼲𑼿𑼡𑽂𑼡𑼴𑼡𑼾𑼫𑼯𑽂𑼗𑼦𑽂𑼬𑼠 dināni jwarakṛtam awaśas soḍawān swarggato ait tāte yaś ca praṇa-
7 𑼰𑽂𑼜𑼾𑼦𑼸𑼥𑼬𑼦𑼶𑼮𑼶𑼪𑼥𑼴𑼤𑼿𑼂𑼫𑽂𑼫𑼬𑼸𑼣𑽂𑼤𑼴𑼯𑽂𑼬𑼸𑼥𑼾𑼡𑽂𑼬𑼃 • 𑼱𑼾𑼴𑼫𑼥𑽂𑼡𑽂𑼫𑼒𑽂𑼡𑼴𑼥𑽂𑼫 ṣṭe punar api wimanā dhairyya ruddhāśrunetraḥ (2) • so yan tyaktānya-
8 𑼩𑼒𑽂𑼡𑼶𑼂𑼙𑼔𑼣𑼶𑼯𑼶𑼮𑼲𑼬𑼴𑼗𑽂𑼘𑼁𑼒𑼬𑼴𑼗𑽂𑼘𑼁𑼒𑼬𑼴𑼓𑽂𑼫𑼃𑼤𑼴𑼡𑼸𑼃𑼦𑼸𑼡𑽂𑼬𑼫𑼴𑼃𑼦𑽂𑼬 bhaktir jagadiśiwaharāc chaƞkarāc chaƞkarākhyaḥ dhātuḥ putryāḥ pra-
9 𑼱𑼴𑼣𑼥𑽂𑼡𑼸𑼜𑼶𑼮𑼣𑼠𑼸𑼡𑼪𑼁𑼱𑽂𑼮𑼭𑽂𑼦𑼦𑼸𑼠𑽂𑼫𑼾𑼴𑼤𑼶𑼔𑼪𑽂𑼫𑼱𑼛𑽂𑼗𑼶𑼥𑽂𑼡𑽂𑼫𑼴𑼡𑽂𑼪 sādan tuṭiwad aṇutamaƞ swalpapuṇyo dhigamya sañcintyātma-
10 𑼦𑽂𑼬𑼡𑼶𑼙𑽂𑼛𑼴𑼪𑼥𑼺𑼡𑼔𑼸𑼬𑼸𑼩𑼫𑼱𑽂𑼱𑼡𑽂𑼫𑼡𑼴𑼥𑽂𑼥𑼾𑼡𑼸𑼪𑼶𑼗𑽂𑼘𑼥𑽂𑼦𑽂𑼬𑼴𑼱𑼴𑼣𑼁𑼱𑽂𑼮𑼴 pratijñām anṛtagurubhayas satyatān netum icchan prāsādaƞ swā-
11 𑼡𑽂𑼪𑼨𑼸𑼣𑽂𑼤𑼾𑼱𑽂𑼱𑼸𑼱𑼣𑼺𑼯𑼪𑼒𑼬𑼾𑼴𑼡𑽂𑼱𑼴𑼂𑼣𑽂𑼤𑼪𑼾𑼩𑼶𑼃𑼦𑽂𑼬𑼮𑼥𑽂𑼤𑼿𑼃 • tmabuddhes susadṛśam akarot sārddham ebhiḥ prawandhaiḥ (3) •
12 𑼯𑽂𑼬𑼾𑼫𑼾𑼴𑼪𑼾𑼴𑼒𑽂𑼰𑼴𑼥𑽂𑼥𑼦𑼬𑼪𑼤𑼶𑼒𑼖𑽂𑼒𑼢𑽂𑼫𑼡𑼾𑼙𑽂𑼛𑼴𑼥𑼮𑼶𑼣𑽂𑼩𑼶𑼂𑼪𑼾𑼴𑼒𑽂𑼰𑼴 śreyo mokṣān na param adhikaṅ kathyate jñānawidbhir mokṣā-
13 𑼱𑽂𑼱𑼾𑼴𑼦𑼶𑼮𑽂𑼬𑼡𑼶𑼩𑼶𑼬𑼥𑼕𑼿𑼂𑼭𑼩𑽂𑼫𑼡𑼾𑼙𑽂𑼛𑼴𑼥𑼲𑼾𑼡𑼾𑼴𑼃𑼡𑼗𑽂𑼗𑼙𑽂𑼛𑼴 s so pi wratibhir anaghair labhyate jñānahetoḥ tac ca jñā-
14 𑼥𑼁𑼮𑽂𑼬𑼡𑼶𑼩𑼶𑼬𑼪𑼭𑼁𑼭𑼩𑽂𑼫𑼡𑼾𑼫𑼡𑽂𑼦𑽂𑼬𑼱𑼴𑼣𑼴𑼣𑽂𑼤𑼴𑼡𑼸𑼃𑼦𑼸𑼡𑽂𑼬𑼷𑼙𑼥𑼫 naƞ wratibhir amalaƞ labhyate yat prasādād dhātuḥ putrī janaya-
15 𑼡𑼸𑼡𑼸𑼬𑼴𑼁𑼮𑼥𑽂𑼣𑼶𑼡𑼴⎼𑼲𑼃𑼒𑼮𑼶𑼡𑽂𑼮𑼪𑽁 • 𑼲𑼶𑼲𑼱𑼸𑼣𑼺𑼞𑼫𑼯𑼾𑼴𑼱𑽂𑼡𑼸𑼩𑼶𑼒𑽂𑼰𑼸 tuturāƞ wanditā ⎼aḥ kawitwam (4) • iha sudṛḍayaśostu bhikṣu-
16 𑼱𑼁𑼕𑼃𑼒𑼸𑼭𑼦𑼡𑼶𑼬𑼔𑽂𑼬𑼫𑼱𑼸𑼓𑼷𑼗𑼶𑼥𑼾𑼴𑼡𑼸𑼤𑼂𑼪𑼪𑽂𑼙𑼔𑼣𑼦𑼔 saƞghaḥ kulapatir agryasukhī cinotu dharmam jagad apaga-
17 𑼞𑼪𑼴𑼫𑼶𑼣𑼱𑽂𑼫𑼸𑼬𑼒𑽂𑼰𑼥𑼺𑼦𑼡𑼶𑼬𑼬𑼴𑼡𑼶𑼬𑼶𑼲𑼴𑼗𑼶𑼬𑼁𑼱𑼙𑼷𑼮𑽂𑼫𑼴𑼡𑽁 • ḍamāyi dasyu rakṣanṛpatir arātir ihāciraƞ sa jīwyāt (5) •

⎼⎼⎼ 𑼡𑽂𑼮𑼁𑼮𑼶𑼣𑼶𑼡𑽂𑼮𑼴𑼱𑽂𑼮𑼒𑼪𑼦𑼶𑼣𑼣𑼡𑼃𑼰𑼜𑽂𑼱𑼸𑼮𑼂𑼠𑼁𑼮𑽂𑼫𑼫𑼴𑼂𑼢𑼪𑽂𑼤𑼂𑼪𑽂𑼫𑼁
𑼫𑼥𑽂𑼪𑼴𑼡𑽂𑼢𑼮𑼴𑼒𑽂𑼫𑼥𑽂𑼡𑼣𑼶𑼲𑼱𑼒𑼬𑼮𑼴𑼠𑼷𑼡𑼶𑼒𑼺𑼡𑽂𑼮𑼴𑼦𑽂𑼬𑼡𑼶𑼙𑽂𑼛𑼴𑼁𑼦𑽂𑼬𑼷𑼡𑽂𑼫𑼴
𑼦𑽂𑼬𑼡𑽂𑼫𑼔𑽂𑼬𑼲𑼷𑼡𑽂𑼡𑼣𑽂𑼔𑼡𑼒𑼦𑼜𑼪𑼥𑼴𑼱𑽂𑼡𑼴𑼡𑼣𑼡𑽂𑼡𑼪𑽂𑼦𑽂𑼬𑼲𑼺𑼰𑽂𑼜𑼃 • 𑼲𑼿𑼡𑽂𑼮𑼴
𑼡𑼸𑼰𑽂𑼜𑼾𑼴𑼦𑼶𑼯𑼺𑼠𑽂𑼮𑼥𑽂𑼮𑼗𑼥𑼪𑼶𑼡𑼶𑼔𑼸𑼬𑼸𑼱𑽂𑼱𑼡𑽂𑼫𑼩𑼴𑼮𑼁𑼮𑼶𑼙𑼴𑼥𑼥𑽂𑼒𑼴𑼭𑼾𑼥𑼿
𑼮𑼴𑼗𑼶𑼬𑼾𑼠𑼔𑽂𑼭𑼦𑼶𑼡𑼡𑼥𑼸𑼮𑼭𑼱𑽂𑼡𑼷𑼮𑽂𑼬𑼣𑼴𑼲𑼙𑽂𑼮𑼬𑼾𑼠𑼣𑼸𑼃𑼓𑼁𑼱𑼾𑼴𑼰𑽂𑼜𑼾𑼴
𑼣𑼶𑼥𑼴𑼥𑼶𑼙𑽂𑼮𑼬𑼒𑼺𑼡𑼪𑼮𑼯𑼱𑽂𑼱𑼾𑼴𑼞𑼮𑼴𑼥𑽂𑼱𑽂𑼮𑼂𑼔𑽂𑼔𑼡𑼾𑼴𑼲𑼿𑼡𑽂𑼡𑼴𑼡𑼾𑼫𑼯𑽂𑼗𑼦𑽂𑼬𑼠
𑼰𑽂𑼜𑼾𑼦𑼸𑼥𑼬𑼦𑼶𑼮𑼶𑼪𑼥𑼴𑼤𑼿𑼂𑼫𑽂𑼫𑼬𑼸𑼣𑽂𑼤𑼴𑼯𑽂𑼬𑼸𑼥𑼾𑼡𑽂𑼬𑼃 • 𑼱𑼾𑼴𑼫𑼥𑽂𑼡𑽂𑼫𑼒𑽂𑼡𑼴𑼥𑽂𑼫
𑼩𑼒𑽂𑼡𑼶𑼂𑼙𑼔𑼣𑼶𑼯𑼶𑼮𑼲𑼬𑼴𑼗𑽂𑼘𑼁𑼒𑼬𑼴𑼗𑽂𑼘𑼁𑼒𑼬𑼴𑼓𑽂𑼫𑼃𑼤𑼴𑼡𑼸𑼃𑼦𑼸𑼡𑽂𑼬𑼫𑼴𑼃𑼦𑽂𑼬
𑼱𑼴𑼣𑼥𑽂𑼡𑼸𑼜𑼶𑼮𑼣𑼠𑼸𑼡𑼪𑼁𑼱𑽂𑼮𑼭𑽂𑼦𑼦𑼸𑼠𑽂𑼫𑼾𑼴𑼤𑼶𑼔𑼪𑽂𑼫𑼱𑼛𑽂𑼗𑼶𑼥𑽂𑼡𑽂𑼫𑼴𑼡𑽂𑼪
𑼦𑽂𑼬𑼡𑼶𑼙𑽂𑼛𑼴𑼪𑼥𑼺𑼡𑼔𑼸𑼬𑼸𑼩𑼫𑼱𑽂𑼱𑼡𑽂𑼫𑼡𑼴𑼥𑽂𑼥𑼾𑼡𑼸𑼪𑼶𑼗𑽂𑼘𑼥𑽂𑼦𑽂𑼬𑼴𑼱𑼴𑼣𑼁𑼱𑽂𑼮𑼴
𑼡𑽂𑼪𑼨𑼸𑼣𑽂𑼤𑼾𑼱𑽂𑼱𑼸𑼱𑼣𑼺𑼯𑼪𑼒𑼬𑼾𑼴𑼡𑽂𑼱𑼴𑼂𑼣𑽂𑼤𑼪𑼾𑼩𑼶𑼃𑼦𑽂𑼬𑼮𑼥𑽂𑼤𑼿𑼃 •
𑼯𑽂𑼬𑼾𑼫𑼾𑼴𑼪𑼾𑼴𑼒𑽂𑼰𑼴𑼥𑽂𑼥𑼦𑼬𑼪𑼤𑼶𑼒𑼖𑽂𑼒𑼢𑽂𑼫𑼡𑼾𑼙𑽂𑼛𑼴𑼥𑼮𑼶𑼣𑽂𑼩𑼶𑼂𑼪𑼾𑼴𑼒𑽂𑼰𑼴
𑼱𑽂𑼱𑼾𑼴𑼦𑼶𑼮𑽂𑼬𑼡𑼶𑼩𑼶𑼬𑼥𑼕𑼿𑼂𑼭𑼩𑽂𑼫𑼡𑼾𑼙𑽂𑼛𑼴𑼥𑼲𑼾𑼡𑼾𑼴𑼃𑼡𑼗𑽂𑼗𑼙𑽂𑼛𑼴
𑼥𑼁𑼮𑽂𑼬𑼡𑼶𑼩𑼶𑼬𑼪𑼭𑼁𑼭𑼩𑽂𑼫𑼡𑼾𑼫𑼡𑽂𑼦𑽂𑼬𑼱𑼴𑼣𑼴𑼣𑽂𑼤𑼴𑼡𑼸𑼃𑼦𑼸𑼡𑽂𑼬𑼷𑼙𑼥𑼫
𑼡𑼸𑼡𑼸𑼬𑼴𑼁𑼮𑼥𑽂𑼣𑼶𑼡𑼴 ⎼ 𑼲𑼃𑼒𑼮𑼶𑼡𑽂𑼮𑼪𑽁 • 𑼲𑼶𑼲𑼱𑼸𑼣𑼺𑼞𑼫𑼯𑼾𑼴𑼱𑽂𑼡𑼸𑼩𑼶𑼒𑽂𑼰𑼸
𑼱𑼁𑼕𑼃𑼒𑼸𑼭𑼦𑼡𑼶𑼬𑼔𑽂𑼬𑼫𑼱𑼸𑼓𑼷𑼗𑼶𑼥𑼾𑼴𑼡𑼸𑼤𑼂𑼪𑼪𑽂𑼙𑼔𑼣𑼦𑼔
𑼞𑼪𑼴𑼫𑼶𑼣𑼱𑽂𑼫𑼸𑼬𑼒𑽂𑼰𑼥𑼺𑼦𑼡𑼶𑼬𑼬𑼴𑼡𑼶𑼬𑼶𑼲𑼴𑼗𑼶𑼬𑼁𑼱𑼙𑼷𑼮𑽂𑼫𑼴𑼡𑽁 •

Terjemahan Bebas

  1. … setelah mengetahui …, ia memberi untuk dikeluarkan juga “emas yang enam” kepunyaannya sendiri, setelah berjanji, “saya harus mengerjakan kata-kata yang benar yang telah dikatakan kepada saya waktu itu,” ia menerima dengan senang hati apa yang telah diberikan oleh ayahnya, dengan hati yang bersih dari pikiran-pikiran yang jahat.
  2. Sang guru pergi dengan puas, mendengar perkataan itu, [karena] mengetahui sifatnya yang benar, dalam waktu yang lama karena sakit panas, badannya lemah, lemas dan kehabisan tenaga, setelah menderita karena sakit panas dengan sedih selama delapan hari, ia masuk surga. Dan ia, setelah ayahnya meninggal, lagi-lagi tidak sadarkan diri, [sambil] dengan ketabahan hati membendung air mata di matanya.
  3. Ia, yang bernama Śaṅkara, setelah meninggalkan kebaktikan kepada [dewa?] yang lain, dari Śaṅkara yang melenyapkan ketidaktenteraman di dunia, [dan] dari Putri Dhātṛ, menjadi puas, setelah menyadari jasanya sendiri yang sedikit, yang tidak berarti sebagai buah cardamom yang kecil, setelah merenungkan janjinya sendiri, karena takut akan gurunya yang tidak benar, bermaksud hendak melaksanakannya, dengan kemauannya sendiri ia membuat prāsāda (candi) yang indah disertai dengan syair ini.
  4. Tiada kebahagiaan yang lebih tinggi daripada mokṣa, demikian dikatakan oleh mereka yang tahu akan jñāna (pengetahuan), mokṣa diperoleh oleh para wartin yang suci berdasarkan ilmunya, dan semoga berdasarkan ilmu para wartin yang terpuji inilah, Putri Dhātṛ berkenan mengembangkan kesusastraan.
  5. Semoga saṅgha para bhikṣu tetap teguh berjasa, semoga kulapati dengan kebahagiaan tertinggi mengumpulkan kebajikan. Semoga musuh, raja pelindung para Dasyu, yang merupakan bukan rintangan di dunia ini, tidak panjang hidupnya.

Referensi:

  • Boechari. (2013). Melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Jernih

  1. Konon prasasti ini dijual oleh keluarga Adam Malik ke seorang kolektor dari Italia pada tahun 2000-an. ↩