Mengukir Sejarah di Tebing dan Lontar
Pagi-pagi buta, tampak berpuluh-puluh kapal menyeberangi Selat Bali. Para brahmana berada di garda terdepan, dikawal oleh ksatria yang gagah berani. Di barisan belakang, prajurit dan penduduk setia Negara mengikuti pemimpin mereka.
“Akankah masa-masa ini akan berakhir?”
Peristiwa itu terjadi seperti lindung (belut) melaju mengarungi samudera. Mereka berpisah dari Raja mereka yang mencapai mokhsa di tanah leluhur—ketika berusaha merajut tali kekeluargaan dengan salah seorang putranya. Kali ini, mereka juga berpisah dari Majapahit, tanah air mereka.