Lewati ke isi

Bali

Mengukir Sejarah di Tebing dan Lontar

Mengukir Sejarah di Tebing dan Lontar

Pagi-pagi buta, tampak berpuluh-puluh kapal menyeberangi Selat Bali. Para brahmana berada di garda terdepan, dikawal oleh ksatria yang gagah berani. Di barisan belakang, prajurit dan penduduk setia Negara mengikuti pemimpin mereka.

“Akankah masa-masa ini akan berakhir?”

Peristiwa itu terjadi seperti lindung (belut) melaju mengarungi samudera. Mereka berpisah dari Raja mereka yang mencapai mokhsa di tanah leluhur—ketika berusaha merajut tali kekeluargaan dengan salah seorang putranya. Kali ini, mereka juga berpisah dari Majapahit, tanah air mereka.

Candi-candi Tebing di Bali

Candi-candi Tebing di Bali

“Paman Jero, saya menemukan batu berukir!” ujar salah seorang warga desa kepada pemangku pura di banjarnya. Tak lama kemudian, warga banjar berbondong-bondong menuju ke lokasi batu berukir yang dimaksud. Batu berukir itu tergeletak di dasar jurang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan: menyisakan sedikit relief berbentuk candi.

Beberapa hari kemudian, diadakanlah upacara sakral untuk memindahkan pecahan batu berukir tersebut ke lokasi yang lebih bagus serta tidak jauh dari tempat ditemukannya. Di tempatnya yang baru, batu berukir tersebut kemudian diberi pondasi yang lebih kuat serta dibuatkan pagar dan tempat pemujaan.

“Dari mana ya batu itu?” tanya salah seorang warga kepada penemunya.

“Entahlah, saya menemukannya sudah dalam kondisi itu di dasar jurang,” jawab sang Penemu.

Aroma wangi bunga berbaur dengan dupa bergaung di sekitar batu berukir itu. Asapnya naik ke langit dan disambut oleh desiran angin sore.