Lewati ke isi

Mengukir Sejarah di Tebing dan Lontar

Pagi-pagi buta, tampak berpuluh-puluh kapal menyeberangi Selat Bali. Para brahmana berada di garda terdepan, dikawal oleh ksatria yang gagah berani. Di barisan belakang, prajurit dan penduduk setia Negara mengikuti pemimpin mereka.

“Akankah masa-masa ini akan berakhir?”

Peristiwa itu terjadi seperti lindung (belut) melaju mengarungi samudera. Mereka berpisah dari Raja mereka yang mencapai mokhsa di tanah leluhur—ketika berusaha merajut tali kekeluargaan dengan salah seorang putranya. Kali ini, mereka juga berpisah dari Majapahit, tanah air mereka.

Sirna ilang kertaning bhumi.

Bersama dengan rakyat Bali, mereka mendirikan sebuah peradaban baru. Golongan Raja dan Ksatria memusatkan perhatian mereka pada kekuatan militer, manakala ada serangan-serangan lanjutan dari pemberontak yang kini telah menguasai istana Majapahit. Para brahmana dibantu dengan warga biasa menggandakan lontar-lontar yang berhasil mereka selamatkan.

Kembali ke Pulau Dewata

Pada artikel Candi-candi Tebing di Bali, saya mengunjungi Pulau Bali untuk eksplor situs-situs purbakala yang tersebar dari Buleleng hingga Klungkung. Waktu itu saya mengunjungi situs-situs candi-candi tebing dan juga beberapa istana raja-raja yang berkuasa di Bali di masa lampau.

Pada kesempatan ini, saya membawa tiga agenda besar:

  • Menghadiri upacara pernikahan sahabat saya dengan adat Bali,
  • Mengunjungi candi kesepuluh dari Candi Gunung Kawi yang terlewatkan dua tahun silam, dan
  • Mengunjungi Museum Buleleng yang menyimpan naskah kuno peninggalan Bali dan Majapahit.

Candi Gunung Kawi yang Kesepuluh

Sepulang dari Bali, ketika menulis artikel Candi-candi Tebing di Bali, saya merasa kecewa karena melewatkan candi yang kesepuluh. Hal ini disebabkan karena lokasi dari candi itu terpisah jauh dari sembilan candi lainnya. Nah, mumpung berada di Pulau Bali, saya menyempatkan diri untuk mampir ke candi yang terlupakan waktu itu.

Candi Gunung Kawi yang kesepuluh ini berada di salah satu relung-relung tebing untuk bermeditasi. Bentuk dari candi ini kurang lebih sama dengan kesembilan candi lainnya.

Lokasi candi kesepuluh tetap berada di jalur utama menuju lokasi Pura dan Candi Gunung Kawi. Hanya saja, pengunjung harus memperhatikan jalan setapak di sebelah kanan tepat setelah toko-toko souvenir di sekitarnya.

Usai dari candi kesepuluh, saya mengunjungi kembali kesembilan candi lainnya.

Museum Buleleng

Museum Buleleng adalah salah satu museum tertua di Pulau Bali, yang menjadi pusat studi naskah-naskah kuno Bali (dan Majapahit).

Koleksi yang tersimpan di museum antara lain foto-foto arca yang ditemukan di berbagai daerah di Pulau Bali. Sebagian besar koleksi arca tersebut telah dipindahkan ke Leiden, Belanda. Menurut pengelola museum, pemerintah tengah mengupayakan untuk memboyong kembali koleksi museum ini dari Belanda.

Gedong Kirtya

Bagian paling menarik adalah koleksi lontar yang terletak di Gedong Kirtya, bangunan terdepan dari Komplek Museum Buleleng. Di sinilah saya menemukan banyak sekali lontar-lontar asli peninggalan Majapahit yang diselamatkan dari Pulau Jawa, serta lontar-lontar peninggalan kerajaan-kerajaan di Bali.

Di Gedong Kirtya ini pula, lontar-lontar tersebut dengan sengaja diduplikat untuk studi dan upaya pelestarian naskah sejarah. Selain diduplikat, beberapa di antara naskah-naskah kuno tersebut telah diterjemahkan dan dipublikasikan.

Dari hasil tanya-jawab dengan pengelola perpustakaan, saya mengambil kesimpulan bahwa naskah-naskah kuno tersebut kurang lebih dikategorikan sebagai berikut:

  • Sejarah, yaitu naskah yang berisi sinopsis dari sejarah Bali atau pun Majapahit.
  • Agama, yaitu naskah yang berisi liturgi atau ritual keagamaan pada jaman dahulu.
  • Mitologi, yaitu naskah yang menceritakan legenda yang berkembang pada masa itu.
  • Praktik, yaitu naskah yang kurang lebih berisikan tradisi praktis pada jaman dulu. Salah satu contohnya adalah tata cara pengobatan kuno.

Sejak Majapahit runtuh, aktivitas sastra di Pulau Jawa menurun drastis. Nusantara kehilangan banyak tulisan yang menjadi bukti sejarah dan tradisi peradaban.

Dengan adanya upaya masyarakat Bali untuk melestarikan tulisan-tulisan tersebut, maka ada secercah harapan bagi kita untuk kembali memahami kehidupan nenek moyang kita di masa lalu — sebagai bahan perbaikan bagi bangsa ini di masa mendatang.

Epilog

Perjalanan ke Bali ini melengkapi dua cerita sebelumnya. Ketika itu, candi kesepuluh dari kompleks candi dan pura Gunung Kawi benar-benar terlewatkan karena minimnya informasi yang saya peroleh. Sedangkan dalam kunjung pertama, Museum Buleleng tutup karena libur.

Dari Museum Buleleng, saya membawa pulang dua buku yang berisi mitologi asal-muasal leluhur Bali di Basukih (atau Pura Besakih) dan Kisah Ki Barak Panji — Raja Pertama Buleleng. Saya akan coba mengolah kedua buku tersebut agar dapat dibaca di kemudian hari. Dari buku Ki Barak Panji, saya menemukan tempat-tempat penting yang menjadi petilasan raja-raja Buleleng yang mungkin masih dapat kita jumpai hingga sekarang. Wah, sepertinya selalu ada alasan kembali ke Pulau Dewata lagi.[]

Artikel ini pernah tayang sebelumnya di Medium.