(Sumber: Rylands Blog)
Kesusastraan Jawa Baru
Kesusastraan Jawa Baru adalah tradisi tulis yang berkembang dari abad ke-16 Masehi hingga abad ke-19 Masehi (periode Islam) di Jawa. Ciri khas kesusastraan Jawa Baru adalah penggunaan bahasa Jawa yang lebih modern, serta adopsi unsur-unsur Islam dalam karya sastra. Naskah Jawa Baru ditulis dalam aksara Jawa Hanacaraka dan Arab Pegon, dengan media tulis pada umumnya adalah kertas yang didatangkan dari Eropa atau Cina.
Secara garis besar, naskah-naskah Jawa Baru dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu prosa dan syair macapat. Naskah Jawa Baru banyak diproduksi di lingkungan keraton, terutama di lingkungan Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Hal ini dikarenakan keraton menjadi pusat kegiatan sastra dan keagamaan pada masa itu.
Kepujanggaan
Berikut ini naskah-naskah Jawa Baru yang dikelompokkan berdasarkan identitas pujangganya.
Mangkoenagoro IV
Mangkoenagoro VII
Padmasusastra
Pakubuwana IV
Pakubuwana IX
Pakubuwana V
Pakubuwana X
Ranggawarsita
Suryomentaram
Yasadipura I dan Yasadipura II
Babad
Berikut ini naskah-naskah Jawa Baru yang termasuk dalam kelompok Babad.