Lewati ke isi

Babad Mangir

Babad Mangir

Babad Mangir adalah kronik yang mengisahkan tentang riwayat pemimpin desa (adipati) Mangir, dan diakhiri oleh Ki Ageng Mangir terakhir1 yang tewas di tangan Panembahan Senapati.

Ikhtisar

  1. Dituliskan mengenai silsilah Mangir yang masih merupakan keturunan Brawijaya V. Ki Ageng Mangir I (Wanabaya) diceritakan mendapatkan sebuah pusaka sakti berupa mata tombak bernama Baru Kuping atau Baru Klinthing. Wanabaya menempati suatu wilayah perdikan bernama Mangir (di sebelah barat daya Yogyakarta).
  2. Panembahan Senapati merasa bahwa Mangir perlu diserang karena dianggap ancaman bagi Mataram. Patih Ki Juru Martani mengatur siasat agar dapat menaklukkan Mangir tanpa jalur peperangan. Ratna Pembayun, putri Panembahan Senapati, diminta untuk menyamar sebagai penari disertai dengan beberapa petinggi Mataram yang menyamar sebagai dalang dan pemain gamelan.
  3. Ki Ageng Mangir III akhirnya jatuh cinta dengan Ratna Pembayun hingga kemudian menikahinya. Ratna Pembayun membujuk suaminya mengunjungi Panembahan Senapati. Dalam kunjungan tersebut, Ki Ageng Mangir III terbunuh oleh Panembahan Senapati.

Sumber Primer

Terdapat beberapa versi naskah Babad Mangir, antara lain:

Judul Keterangan
Babad Bedhahing Mangir Koleksi Museum Sonobudoyo dengan nomor PB-A.16-98. Pada bagian kolofon naskah ini, terdapat informasi bahwa naskah ini disalin oleh salah satu buyut Pakubuwana IX sekitar awal abad ke-20. Naskah versi ini berbentuk macapat.
Babad Bedhahipun ing Mangir Naskah cetak tahun 1922 yang disusun oleh Sasrawinata. Naskah versi ini juga berbentuk macapat.
Babad Mangir Naskah cetak tahun 1913 yang disusun oleh Suradipura. Naskah versi ini merupakan bentuk prosa dari macapat.
Babad Tanah Jawi (Versi R. Panji Jayasubrata) Naskah cetak tahun 1917-1925 yang disusun oleh Raden Panji Jayasubrata.
Babad Mataram: Senapati Dumugi Pakubuwana I Koleksi Keraton Yogyakarta dengan nomor A.16, yang disalin pada 23 Maret 1858. Naskah ini berbentuk macapat. Kronik Mangir termasuk bagian cerita di dalamnya.
Sarasilah Empu Koleksi Museum Sonobudoyo dengan nomor F.18 yang disalin oleh Carik Magang Sardama Sastrareja pada 21 Maret 1877. Secara umum naskah ini berisi riwayat empu pembuat keris, kronik Ki Ageng Mangir termasuk salah satu yang diceritakan di dalamnya.
Babad Tanggung Koleksi Fakultas Sastra Universitas Indonesia dengan nomor NR.389, berbentuk macapat dan prosa. Kronik Ki Ageng Mangir termasuk salah satu yang diceritakan di dalamnya.
Naskah Babad NB 1871 Koleksi Khastara Perpustakaan Nasional RI. Babad Mangir berbentuk macapat termasuk di dalamnya. Isi Babad Mangir sama dengan Babad Tanah Jawi (Versi R. Panji Jaya Subrata).

Manuskrip

Judul: Babad Bedhahipun ing Mangir
Nomor: Sastra#930
Penulis: Sasrawinata
Lokasi: Sastra.org (Digital)
Material: Cetakan Van Dorf, 1922
Judul: Babad Mangir
Nomor: Sastra#1125
Penulis: Suradipura
Lokasi: Sastra.org (Digital)
Material: Cetakan Papirus, 1913

Publikasi

Babad Mangir - Kisah dan Sejarah Ki Ageng Mangir
Judul: Babad Mangir - Kisah dan Sejarah Ki Ageng Mangir
Penulis: Gunawan
Penerbit: Araska
Tahun: 2024
Babad Ki Ageng Mangir
Judul: Babad Ki Ageng Mangir
Penulis: Purwadi, Dr
Penerbit: Narasi
Tahun: 2014
Drama Mangir
Judul: Drama Mangir
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2015

  1. Ki Ageng Mangir ke-3 atau ke-4. ↩