Lewati ke isi

2026

Membuka Khazanah Naskah Jawa di Surakarta

Membuka Khazanah Naskah Jawa di Surakarta

Pencatatan dan pelestarian warisan intelektual Jawa di Surakarta menandai babak baru. Proses digitalisasi katalog manuskrip yang tersimpan di berbagai institusi pemangku kebudayaan di Surakarta kini telah selesai dikerjakan. Inisiatif ini merangkum inventaris naskah kuno dari empat institusi utama: Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Museum Radya Pustaka, dan Perpustakaan Harjonegaran (Hardjonagaran).

Penelusuran Sumber-sumber Primer Babad Mangir

Penelusuran Sumber-sumber Primer Babad Mangir

Penelusuran terhadap narasi tragedi Ki Ageng Mangir Wanabaya dan hegemoni Panembahan Senapati di Mataram memerlukan perunutan sumber data yang memadai. Kendati tulisan ini bukan merupakan kajian filologi maupun historiografi mendalam atas kisah Mangir, kehadiran sejumlah sumber primer yang telah terpublikasi tetap diperlukan.

Melalui penelusuran digital terhadap naskah-naskah primer yang tersedia, terhimpun lima varian sumber tekstual utama, antara lain:

Mangulihi di Museum Kailasa

Mangulihi di Museum Kailasa

Kami sudah kembali ke basecamp Gunung Prau sekitar pukul 14.00. Hari itu, kami berhasil menuntaskan tek-tok ke puncak Gunung Prau melalui Dieng. Terik panas yang seharusnya membakar kulit dengan segera tersapu oleh embun yang menuruni gunung. Yah, bulan Agustus adalah waktu Dieng dingin mbedhidhing, saat-saat di mana terik panas hanya sebentar menyelimuti wilayah ini.

Usai beristirahat di basecamp, kami lanjut blusukan ke situs bersejarah di sekitar Dieng. Jika biasanya Komplek Candi Arjuna menjadi tujuan blusukan era klasik, maka kali ini kami hanya mengunjungi Museum Kailasa yang terletak di seberang Candi Gatotkaca. Tujuan utama kami adalah menelisik kembali sebuah prasasti yang tersimpan di dalam museum.

Prasasti Ampeldento dan Cetiya untuk Raja Kertanegara

Prasasti Ampeldento dan Cetiya untuk Raja Kertanegara

Prasasti Ampeldento ditemukan pada 22 November 2022 di area pemakaman umum dekat pintu masuk tol Pakis-Malang. Prasasti yang terbuat dari batu putih ini ditemukan dalam posisi berdiri seperti sebuah nisan dengan menyisakan tiga baris tulisan. Informasi tarikh 1271 Śaka (1349 Masehi) menandakan pembangunan prasasti ini dibuat pada era Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Ratu Tribhuwana Tunggadewi.

Memaknai Prasasti Lucem

Memaknai Prasasti Lucem

Matahari sudah berada di ufuk Barat. Ia tidak sedang menghindar dari kesibukan manusia di bawah langit Kediri, melainkan membangunkan manusia di belahan bumi lainnya. Sisa-sisa kehangatannya masih kurasakan ketika menyaksikan Prasasti Lucemβ€”atau yang dikenal dengan sebutan Prasasti Poh Sarang. Apalagi ditambah dengan rasa takjub ketika menyadari bahwa prasasti ini tidak dipahatkan sebagai cekungan sebagaimana prasasti-prasasti lain.