Prasasti Ampeldento dan Cetiya untuk Raja Kertanegara
Prasasti Ampeldento ditemukan pada 22 November 2022 di area pemakaman umum dekat pintu masuk tol Pakis-Malang. Prasasti yang terbuat dari batu putih ini ditemukan dalam posisi berdiri seperti sebuah nisan dengan menyisakan tiga baris tulisan. Informasi tarikh 1271 Śaka (1349 Masehi) menandakan pembangunan prasasti ini dibuat pada era Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Ratu Tribhuwana Tunggadewi.
Sumber: Prasasti Ampeldento, sumber BPK Wilayah XI
Dalam prasasti ini, terbaca sebuah kalimat yang artinya sebagai berikut.
… di hadapan Paduka Batara Śri Kṛtānāgara. Pada tahun Śaka 1271, telah dibangun sebuah monumen (cetiya) oleh keturunan Sang … Pati, yang dipimpin oleh Rakryan Apatih Mpu Glen.
Prasasti dari abad ke-14 ini menguak nama mahapatih baru yang belum pernah terdengar sebelumnya, yaitu Patih Mpu Glen. Tokoh tersebut adalah yang meresmikan pendirian sebuah cetiya (monumen suci) yang dibangun untuk menghormati Raja Kertanegara. Biasanya pendirian bangunan suci juga jadi satu kesatuan dengan tanah sima, tanah perdikan yang bebas pajak. Dalam hal ini, pembebasan pajak guna merawat bangunan suci tersebut. Tanah Sima dan bangunan suci tersebut kemudian terus dirawat hingga sampailah kepada Mpu Glen pada masa Majapahit.
Data prasasti: Prasasti Ampeldento
Kaitan Mpu Glen dengan Raja Kertanegara
Patih Mpu Glen diduga memiliki hubungan dengan Raja Kertanegara, Maharaja terakhir Kerajaan Singashari sebelum ditaklukan Jayakatwang dari Gelang-gelang. Hal ini diperkuat dengan penyebutan nama Raja Kertanegara pada bagian awal prasasti, seolah menegaskan bahwa Mpu Glen merupakan keturunan Kertanegara.
Gagasan hubungan antara Mpu Glen dengan Raja Kertanegara diperkuat dengan adanya prasasti Gajah Mada yang ditemukan di sekitar area Candi Singosari, Malang. Prasasti Gajah Mada diawali dengan tahun kematian Raja Kertanegara pada tahun 1214 Śaka (1292 Masehi). Kemungkinan penulisan tersebut merupakan bentuk klaim Gajah Mada bahwa dia memiliki hubungan dengan Raja Kertanegara.
Data prasasti: Prasasti Gajah Mada
Prasasti Gajah Mada ditutup dengan tulisan tentang pembangunan cetiya untuk Kertanegara yang gugur akibat serangan Jayakatwang. Pembangunan candi tersebut merupakan bentuk bakti dari keturunan dan para pembantu dekat Kertanegara. Bagian akhir prasasti Gajah Mada semakin mempertegas bahwa Gajah Mada memang keturunan Kertanegara. Karena candi pendarmaan hanya boleh dibangun oleh keturunan atau kerabat tokoh tersebut. Kedua prasasti tersebut sama-sama diawali dengan penyebutan Kertanegara, pembangungan cetiya, dan dibuat oleh seorang Patih dan Mapatih.
Dari temuan manuskrip hingga prasasti di masa Hindu-Buddha Indonesia, nama Mpu Glen hanya tertulis di Prasasti Ampeldento serta bergelar lengkap Rakryan Apatih. Rakryan merupakan gelar yang hampir sama dengan Rakai, yaitu seorang penguasa yang memiliki wilayah kekuasaan lebih luas dari Desa. Ini menandakan Rakryan Apatih Mpu Glen merupakan seorang Patih yang berkuasa di area Ampeldento atau kemungkinan di wilayah Malang Timur.
Lokasi Ampeldento
Lantas di manakah bangunan suci yang tertulis dalam Prasasti Ampeldento? Kemungkinan besar, Candi yang dibangun oleh Raja Kertanegara tersebut berada di area pemakaman umum tempat Prasasti Ampeldento ditemukan. Entah candi tersebut masih terbenam dalam tanah atau sudah lenyap setelah sekian ratus tahun lamanya dan hanya menyisakan batu prasastinya saja.
Dilihat dari bentuknya yang persegi panjang dan hanya memuat tiga baris pendek. Kemungkinan Prasasti Ampeldento merupakan batu penyusun bangunan dinding candi. Hal serupa dapat dijumpai pada Candi Plaosan Lor dan Candi Penataran yang terdapat inskripsi atau prasasti pendek di dinding bangunan candinya.
Sumber: