Mangulihi di Museum Kailasa
Kami sudah kembali ke basecamp Gunung Prau sekitar pukul 14.00. Hari itu, kami berhasil menuntaskan tek-tok ke puncak Gunung Prau melalui Dieng. Terik panas yang seharusnya membakar kulit dengan segera tersapu oleh embun yang menuruni gunung. Yah, bulan Agustus adalah waktu Dieng dingin mbedhidhing, saat-saat di mana terik panas hanya sebentar menyelimuti wilayah ini.
Usai beristirahat di basecamp, kami lanjut blusukan ke situs bersejarah di sekitar Dieng. Jika biasanya Komplek Candi Arjuna menjadi tujuan blusukan era klasik, maka kali ini kami hanya mengunjungi Museum Kailasa yang terletak di seberang Candi Gatotkaca. Tujuan utama kami adalah menelisik kembali sebuah prasasti yang tersimpan di dalam museum.
Ruang Depan Museum Kailasa Dieng (dok. pribadi)
Prasasti Mangulihi: Cikal-bakal Dieng
Kami memarkirkan motor tidak jauh dari pintu Museum Kailasa. Di loket museum, tampak seorang perempuan yang sedang berjaga menantikan pengunjung yang hendak singgah. Sayangnya, museum sangat sepi karena pemadaman listrik sejak pukul 10.00 pagi. Katanya ada pemeliharaan jaringan listrik akibat peningkatan kebutuhan listrik sejak bertambahnya rumah-rumah penginapan.
Kehadiran kami berdua mungkin sedikit menghiburnya sebab kami bersikeras untuk mengunjungi gelapnya bagian belakang museum yang menyimpan Prasasti Mangulihi. Ia memperbolehkan kami menggunakan flash ponsel sebagai penerangan.
Tidak butuh waktu lama, kami tiba di sudut belakang museum. Batu Prasasti Mangulihi berdiri tidak ditemani prasasti-prasasti lainnya. Yang cukup menyedihkan ialah keterangan prasasti di bawahnya hanya menjelaskan deskripsi fungsi dari prasasti secara umum. Keterangan tersebut tidak menjelaskan sedikitpun mengenai prasasti ini. Mengapa?
Jawabannya mungkin kami temukan kemudian di Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah (“SK”) tentang penetapan Prasasti Mangulihi ini sebagai benda cagar budaya tingkat Provinsi.1 Secara fisik, prasasti ini terpecah menjadi setidaknya empat fragmen. Tiga di antaranya berhasil ditemukan dan disusun seperti tampak pada gambar.
Prasasti Mangulihi (dok. pribadi)
Di dalam SK tersebut, dicantumkan terjemahan dari aksara yang masih dapat dibaca saja. Karena memang banyak huruf yang aus dan dilalui oleh retakan, maka prasasti ini tidak dapat dibaca secara utuh. Untuk sementara waktu, para arkeolog2 menyimpulkan bahwa prasasti ini merupakan tanda penetapan tanah sima.3
Data prasasti: Prasasti Mangulihi.
Selanjutnya kami menoleh ke sebelah kiri dan mendapatkan sebuah papan informasi yang bertajuk: “Merangkai sejarah Dieng dari prasasti”, diikuti dengan kalimat berikut: “Tentang fungsi Dieng, ibarat sebuah puzzle yang gambarnya harus dirangkai dari kurang lebih 22 buah prasasti berbahasa Jawa Kuna.”
Jika dikatakan ada 22 buah prasasti, sedangkan hanya ada 1 prasasti yang ditampilkan di museum ini, lalu di manakah ke-21 prasasti lainnya? Di museum ini kami tidak mendapatkan informasi mengenai keberadaan prasasti-prasasti tersebut. Oleh karena itu kami berasumsi bahwa prasasti lain dibawa ke Museum Nasional Indonesia, dibawa ke Belanda, berada di tangan kolektor, atau hilang begitu saja.
Menemukan Sumber Data dari Literatur
Beberapa hari berikutnya, kami mengunjungi Perpustakaan Benteng Vredeburg di Yogyakarta. Di sini kami menemukan sebuah buku berjudul Prasasti Batu: Pembacaan Ulang dan Alih Aksara Volume I. Di halaman indeks prasasti, kami menemukan ada 3 prasasti lain yang berasal dari Dieng. Prasasti-prasasti tersebut antara lain:
Prasasti Gunung Wule dan Wayuku sama-sama berisi tentang penetapan wilayah sima oleh pejabat setempat. Perbedaannya, Prasasti Wayuku dikeluarkan pada zaman pemerintahan Rakai Pikatan, sementara Prasasti Gunung Wule dan Mangulihi dikeluarkan pada zaman pemerintahan Rakai Kayuwangi.4
Prasasti Dieng ini dapat dikatakan cukup unik. Selain bentuknya yang menyerupai obeliks, prasasti ini menuliskan perbendaharaan harta atau inventarisasi aset “milik dewa”.5 Maksudnya mungkin adalah deskripsi wilayah sima (berupa lahan perkebunan kacang, kolam pemandian, dan sebagainya) dan objek-objek lain yang mungkin digunakan untuk upacara keagamaan (seperti kerbau, cermin, perkakas tembaga, kuali, kain, dan sebagainya).
Dengan demikian, 4 dari 22 data prasasti Dieng telah kami temukan. Keempat prasasti tersebut berfungsi sebagai tanda peresmian tanah sima. Apakah ada di antara pembaca yang telah menemukan prasasti dari Dieng lainnya?
Artikel ini telah tayang di Substack.
Prasasti-prasasti dari Dieng
Data prasasti-prasasti yang ditemukan di Dieng akan disajikan pada bagian ini.
Inskripsi pada Guci Rambut Lepas
Identitas guci perak buatan Dieng yang berisi arca emas Dewa Śiwa
Prasasti Dieng III
Barang-barang dan peralatan untuk keperluan upacara keagamaan
Prasasti Dieng IV
Barang-barang pemberian
Prasasti Dieng VI
Penetapan sima di Desa Tepoh, Triwuah, Kalumwayan, Rakidan.
Prasasti Dieng VIII
Angka tahun 1130 Śaka di tebing
Prasasti Er Hangat
Penetapan sima di Desa Er Hangat
Prasasti Gunung Wule
Penetapan sima di Desa Taju
Prasasti Mangulihi
Penetapan sima di Desa Mangulihi
Prasasti Pintang Mas
Pelaksanaan upacara persembahan di Pintang Mas
Prasasti Sri Manggala
Penetapan sima di Desa Sri Manggala, Wukuwatu, dan Panulingan
Prasasti Wadihati
Penetapan sima atas tanah milik Sang Hadyan Juru Wadihati
Prasasti Wayuku
Penetapan sima di Desa Wayuku
Prasasti Wintang Mas II
Penyelesaian persoalan pembayaran pajak dari Pastika kepada Wintangmas