Lewati ke isi

Penelusuran Sumber-sumber Primer Babad Mangir

Penelusuran terhadap narasi tragedi Ki Ageng Mangir Wanabaya dan hegemoni Panembahan Senapati di Mataram memerlukan perunutan sumber data yang memadai. Kendati tulisan ini bukan merupakan kajian filologi maupun historiografi mendalam atas kisah Mangir, kehadiran sejumlah sumber primer yang telah terpublikasi tetap diperlukan.

Melalui penelusuran digital terhadap naskah-naskah primer yang tersedia, terhimpun lima varian sumber tekstual utama, antara lain:

  • Babad Bedhahing Mangir koleksi Museum Sonobudoyo (dengan kode MSB S.55 / PB A.16) berbentuk macapat yang digagas oleh Pakubuwana IX dan pernah dialihaksarakan oleh Yacobus Mulyadi;
  • Babad Bedhahipun ing Mangir gubahan Sasrawinata (terbitan Van Dorp tahun 1922);
  • Pupuh 70-86 dari Babad Tanah Jawi (versi R. Panji Jayasubrata terbitan 1917–1925) yang menceritakan bagian kisah Mangir;
  • Babad Mangir karya Suradipura berupa saduran gancaran atau prosa (terbitan Firm Papirus Betawi tahun 1913);
  • serta manuskrip kompilasi babad berkode NB 1871 yang memuat kisah Mangir berdampingan dengan babad Bagelen dan Jaka Tingkir.

Ki Ageng Mangir menghadap Panembahan Senapati

Dalam membedah himpunan sumber tersebut, tahun cetak tidak dapat serta-merta dijadikan ukuran ketuaan materi teks. Kesusastraan Jawa pada rentang masa 1840 hingga 1917 mengalami dinamika transisi historiografi yang masif seiring bertumbuhnya industri percetakan modern yang didorong oleh otoritas kolonial Belanda.1 Pada era inilah karya-karya babad yang berakar dari tradisi lisan dan tembang macapat mulai dialihmediakan ke dalam format prosa demi keterbacaan khalayak baru.2 Mengingat arah transformasi kultural tersebut, naskah berbentuk tembang macapat secara metodologis diasumsikan memiliki memori teks dan usia tradisi yang lebih tua dibandingkan versi prosa. Asumsi ini ditegaskan secara eksplisit dalam bagian pembuka teks Babad Mangir karya Suradipura, yang menyatakan bahwa karyanya merupakan bentuk prosa dari suatu sumber macapat.

Dua Naskah Cetak Babad Mangir

Langkah kritik teks terhadap kelompok naskah tembang memperlihatkan pola kekerabatan yang khas. Manuskrip NB 1871 memperlihatkan kesejajaran bentuk yang amat identik dengan narasi Mangir dalam Babad Tanah Jawi. Struktur metrum dan susunan baitnya berjalan paralel, di mana sedikit selisih bait yang ditemukan murni merupakan akibat variasi mekanis atau kesalahan penyalinan naskah semata. Oleh karena itu, Babad Tanah Jawi dapat dipilih sebagai representasi yang mewakili pembacaan varian tersebut.

Kemudian jika diteliti lebih lanjut, teks Babad Tanah Jawi ini memiliki keselarasan alur cerita yang amat erat dengan Babad Bedhahipun ing Mangir susunan Sasrawinata (1922). Perbedaan struktural di antara keduanya hanya berfokus pada variasi metrum di bagian pembuka serta penutup teksβ€”suatu modifikasi teknis yang wajar mengingat kisah Mangir dalam Babad Tanah Jawi harus disambungkan ke dalam bingkai besar ekspansi wilayah Mataram lainnya. Kesejajaran naratif ini menunjukkan bahwa Babad Tanah Jawi dan versi Sasrawinata berakar dari satu rumpun tradisi induk Babad Mangir yang sama, yang dapat dipetakan sebagai Babad Mangir Versi A.

Di sisi lain, naskah Babad Bedhahing Mangir koleksi Sonobudoyo menghadirkan percabangan alur yang berbeda secara signifikan bila dibandingkan dengan kelompok naskah Versi A. Karakteristik naskah Sonobudoyo ini mengindikasikan adanya transmisi tradisi penulisan tersendiri sehingga dapat dikelompokkan tersendiri sebagai Babad Mangir Versi B.

Melalui peta genealogi naskah ini, rekonstruksi kronologi sejarah Mangir dapat dirajut secara komparatif: menyejajarkan perbedaan alur antara tradisi Versi A dan Versi B, lalu membandingkan keduanya dengan interpretasi semantis yang terkandung dalam naskah prosa Suradipura sebagai jembatan hermeneutisnya.

Sumber data: Babad Mangir.

Artikel ini telah terbit di Substack.


  1. Riyadi, Slamet. 1997. Sastra Jawa Masa Transisi 1840-1917. Jakarta: Balai Penelitian Bahasa. ↩

  2. Ibid. ↩