Lewati ke isi

Medang

Mangulihi di Museum Kailasa

Mangulihi di Museum Kailasa

Kami sudah kembali ke basecamp Gunung Prau sekitar pukul 14.00. Hari itu, kami berhasil menuntaskan tek-tok ke puncak Gunung Prau melalui Dieng. Terik panas yang seharusnya membakar kulit dengan segera tersapu oleh embun yang menuruni gunung. Yah, bulan Agustus adalah waktu Dieng dingin mbedhidhing, saat-saat di mana terik panas hanya sebentar menyelimuti wilayah ini.

Usai beristirahat di basecamp, kami lanjut blusukan ke situs bersejarah di sekitar Dieng. Jika biasanya Komplek Candi Arjuna menjadi tujuan blusukan era klasik, maka kali ini kami hanya mengunjungi Museum Kailasa yang terletak di seberang Candi Gatotkaca. Tujuan utama kami adalah menelisik kembali sebuah prasasti yang tersimpan di dalam museum.

Memaknai Prasasti Lucem

Memaknai Prasasti Lucem

Matahari sudah berada di ufuk Barat. Ia tidak sedang menghindar dari kesibukan manusia di bawah langit Kediri, melainkan membangunkan manusia di belahan bumi lainnya. Sisa-sisa kehangatannya masih kurasakan ketika menyaksikan Prasasti Lucemβ€”atau yang dikenal dengan sebutan Prasasti Poh Sarang. Apalagi ditambah dengan rasa takjub ketika menyadari bahwa prasasti ini tidak dipahatkan sebagai cekungan sebagaimana prasasti-prasasti lain.