Lewati ke isi

Blog Pranacaraka

Selamat datang di Blog Pranacaraka!

Terima kasih telah berkunjung. Blog ini akan menyajikan artikel atau catatan perjalanan dari para kontributor Pranacaraka Project ketika mengunjungi situs-situs purbakala. Semoga catatan-catatan kami bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Artikel Terkini

Membuka Khazanah Naskah Jawa di Surakarta

Membuka Khazanah Naskah Jawa di Surakarta

Pencatatan dan pelestarian warisan intelektual Jawa di Surakarta menandai babak baru. Proses digitalisasi katalog manuskrip yang tersimpan di berbagai institusi pemangku kebudayaan di Surakarta kini telah selesai dikerjakan. Inisiatif ini merangkum inventaris naskah kuno dari empat institusi utama: Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, Museum Radya Pustaka, dan Perpustakaan Harjonegaran (Hardjonagaran).

Penelusuran Sumber-sumber Primer Babad Mangir

Penelusuran Sumber-sumber Primer Babad Mangir

Penelusuran terhadap narasi tragedi Ki Ageng Mangir Wanabaya dan hegemoni Panembahan Senapati di Mataram memerlukan perunutan sumber data yang memadai. Kendati tulisan ini bukan merupakan kajian filologi maupun historiografi mendalam atas kisah Mangir, kehadiran sejumlah sumber primer yang telah terpublikasi tetap diperlukan.

Melalui penelusuran digital terhadap naskah-naskah primer yang tersedia, terhimpun lima varian sumber tekstual utama, antara lain:

Mangulihi di Museum Kailasa

Mangulihi di Museum Kailasa

Kami sudah kembali ke basecamp Gunung Prau sekitar pukul 14.00. Hari itu, kami berhasil menuntaskan tek-tok ke puncak Gunung Prau melalui Dieng. Terik panas yang seharusnya membakar kulit dengan segera tersapu oleh embun yang menuruni gunung. Yah, bulan Agustus adalah waktu Dieng dingin mbedhidhing, saat-saat di mana terik panas hanya sebentar menyelimuti wilayah ini.

Usai beristirahat di basecamp, kami lanjut blusukan ke situs bersejarah di sekitar Dieng. Jika biasanya Komplek Candi Arjuna menjadi tujuan blusukan era klasik, maka kali ini kami hanya mengunjungi Museum Kailasa yang terletak di seberang Candi Gatotkaca. Tujuan utama kami adalah menelisik kembali sebuah prasasti yang tersimpan di dalam museum.

Prasasti Ampeldento dan Cetiya untuk Raja Kertanegara

Prasasti Ampeldento dan Cetiya untuk Raja Kertanegara

Prasasti Ampeldento ditemukan pada 22 November 2022 di area pemakaman umum dekat pintu masuk tol Pakis-Malang. Prasasti yang terbuat dari batu putih ini ditemukan dalam posisi berdiri seperti sebuah nisan dengan menyisakan tiga baris tulisan. Informasi tarikh 1271 Ĺšaka (1349 Masehi) menandakan pembangunan prasasti ini dibuat pada era Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Ratu Tribhuwana Tunggadewi.

Memaknai Prasasti Lucem

Memaknai Prasasti Lucem

Matahari sudah berada di ufuk Barat. Ia tidak sedang menghindar dari kesibukan manusia di bawah langit Kediri, melainkan membangunkan manusia di belahan bumi lainnya. Sisa-sisa kehangatannya masih kurasakan ketika menyaksikan Prasasti Lucem—atau yang dikenal dengan sebutan Prasasti Poh Sarang. Apalagi ditambah dengan rasa takjub ketika menyadari bahwa prasasti ini tidak dipahatkan sebagai cekungan sebagaimana prasasti-prasasti lain.

Hubungan Diplomatik Majapahit dan Bali dalam Sumber Teks

Hubungan Diplomatik Majapahit dan Bali dalam Sumber Teks

Bagi masyarakat Bali, Pulau Jawa adalah tanah leluhur yang dihormati. Apalagi jika melirik tulisan sejarah, Bali masih memiliki hubungan kerabat dengan Majapahit. Meskipun Majapahit telah sirna hilang kertaning bhumi, penghormatan leluhur tidak terputus hingga sekarang.

Saya mencoba menelisik lebih jauh bagaimana hubungan itu terjalin, berangkat dari sebuah situs bersejarah di Tabanan.

Antara Sejarah dan Ziarah

Antara Sejarah dan Ziarah

Saya sedang membaca antologi artikel Polemik Naskah Wangsakerta. Artikel-artikel yang terkandung di dalamnya menguraikan pendapat para filolog, epigraf, maupun ahli sastra ketika meragukan maupun mendukung keaslian1 naskah-naskah yang diterbitkan oleh Pangeran Wangsakerta dan timnya.

Karya-karya Mpu Tanakung

Karya-karya Mpu Tanakung

Di taman itu, dia meninggalkan mantan kekasihnya sendirian saja. Jiwa dan raga mereka bertemu, namun tidak dengan restu. Sang Perempuan pujaan hatinya telah menikah dengan pilihan orang tuanya.

Disibakkannya kain wastra sederhana yang dia kenakan. Ikat kepalanya dikencangkan, seraya melangkah pelan dan mantap menuju asramanya di atas gunung.

Dipilihnya nama Tan-Akung, yang artinya “tanpa cinta”. Nama yang kemudian menyurutkan nama aslinya, namun membesarkannya sebagai Pujangga Agung Majapahit.

Mengukir Sejarah di Tebing dan Lontar

Mengukir Sejarah di Tebing dan Lontar

Pagi-pagi buta, tampak berpuluh-puluh kapal menyeberangi Selat Bali. Para brahmana berada di garda terdepan, dikawal oleh ksatria yang gagah berani. Di barisan belakang, prajurit dan penduduk setia Negara mengikuti pemimpin mereka.

“Akankah masa-masa ini akan berakhir?”

Peristiwa itu terjadi seperti lindung (belut) melaju mengarungi samudera. Mereka berpisah dari Raja mereka yang mencapai mokhsa di tanah leluhur—ketika berusaha merajut tali kekeluargaan dengan salah seorang putranya. Kali ini, mereka juga berpisah dari Majapahit, tanah air mereka.

Candi-candi Tebing di Bali

Candi-candi Tebing di Bali

“Paman Jero, saya menemukan batu berukir!” ujar salah seorang warga desa kepada pemangku pura di banjarnya. Tak lama kemudian, warga banjar berbondong-bondong menuju ke lokasi batu berukir yang dimaksud. Batu berukir itu tergeletak di dasar jurang dengan kondisi yang sangat memprihatinkan: menyisakan sedikit relief berbentuk candi.

Beberapa hari kemudian, diadakanlah upacara sakral untuk memindahkan pecahan batu berukir tersebut ke lokasi yang lebih bagus serta tidak jauh dari tempat ditemukannya. Di tempatnya yang baru, batu berukir tersebut kemudian diberi pondasi yang lebih kuat serta dibuatkan pagar dan tempat pemujaan.

“Dari mana ya batu itu?” tanya salah seorang warga kepada penemunya.

“Entahlah, saya menemukannya sudah dalam kondisi itu di dasar jurang,” jawab sang Penemu.

Aroma wangi bunga berbaur dengan dupa bergaung di sekitar batu berukir itu. Asapnya naik ke langit dan disambut oleh desiran angin sore.