Hubungan Diplomatik Majapahit dan Bali dalam Sumber Teks
Bagi masyarakat Bali, Pulau Jawa adalah tanah leluhur yang dihormati. Apalagi jika melirik tulisan sejarah, Bali masih memiliki hubungan kerabat dengan Majapahit. Meskipun Majapahit telah sirna hilang kertaning bhumi, penghormatan leluhur tidak terputus hingga sekarang.
Saya mencoba menelisik lebih jauh bagaimana hubungan itu terjalin, berangkat dari sebuah situs bersejarah di Tabanan.
Mampir ke Puri Anom Tabanan
Baru awal tahun ini saya mampir ke Puri Anom Tabanan dan bertemu dengan Gusti Pangeran keturunan Arya Damar. Arya Damar adalah sosok yang dihormati sebagai pendiri Kerajaan Tabanan, bagian dari Kemaharajaan Bali.
Di antara perbincangan kami, saya menanyakan mengenai keberadaan naskah sejarah keraton yang berada di puri. Saya sempat menduga bahwa setidaknya ada salinan sejenis babad disimpan di puri. Ternyata dugaan saya tidak sepenuhnya keliru, naskah itu ada namun telah dipindahkan ke museum atau perpustakaan yang merawat lontar.
Pada bulan Juli lalu, saya membeli beberapa buku tentang Majapahit yang akan saya data di situs Pranacaraka1. Di antaranya, ada buku berjudul Usana Jawa dan Usana Bali terbitan UPTD Gedong Kirtya tahun 2008. Buku itu tidak langsung saya baca.
Seminggu terakhir, usai menuntaskan Kakawin Anyang Nirartha dan Jinarthi Prakreti, saya tergerak untuk mulai membaca Usana Jawa dan Usana Bali ini. Saya sempat terkejut ketika mendapati bahwa naskah yang saya baca ini adalah kitab yang dituturkan oleh Gusti Pangeran Puri Anom Tabanan!

Usana Jawa dan Bali
Usana Jawa (UJ) dan Usana Bali (UB) adalah dua naskah yang berbeda yang ceritanya saling melengkapi. “Usana” dapat diartikan sebagai “cerita dari masa lalu” atau dengan kata lain sejarah. Dengan demikian “Usana Jawa” adalan cerita dari masa lalu tentang Jawa, begitu pula dengan “Usana Bali” yang menceritakan tentang Bali.
Jika kedua naskah tersebut digabungkan2, maka kedua cerita ini dapat diurutkan dengan narasi sebagai berikut:
- [UB] Diceritakan mengenai latar belakang kerajaan di Bali yang sudah lengkap tatanan masyarakatnya, namun belum memahami dharma.
- [UB] Diperkenalkan utusan dari Majapahit yang bernama Mpu Kulputih bersama istrinya. Keduanya menjadi pendeta yang menegakkan dharma dan memperkenalkan serangkaian ritus suci Hindu (mungkin Siwa Buddha) Majapahit kepada masyarakat. Ritus “Dewasraya” dan ritus lainnya diterangkan cukup terperinci, sehingga kehidupan masyarakat Bali semakin membaik, makmur, dan jauh dari wabah penyakit.
- [UB] Muncul dua sosok misterius di hadapan Mpu Kulputih yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Bhatara Putrajaya (atau Bhatara Mahadewa) dan Bhatari Dewi Danu. Keduanya adalah putra dari Bhatara Pasupati yang bertahta di Mahameru (Majapahit). Keduanya dinobatkan sebagai raja di Bali dan bertahta di Pura Besakih. Kerajaan Bali semakin makmur sejak kehadiran kedua anak Bhatara tersebut.
- [UB] Tidak berapa lama, muncul tokoh Mayadenawa yang mengalahkan raja di Bedahulu. Mayadenawa mengklaim diri sebagai raja setelah membunuh raja sebelumnya. Kemudian diceritakan kedua anak Bhatara kembali ke Jawa karena tidak mampu menandingi kesaktian Raja Mayadenawa.
- [UJ] Dengan berkuasanya Raja Mayadenawa, Bali tidak memberikan upeti kepada Majapahit.
- [UJ] Baginda Raja Majapahit mengutus Arya Damar dan Gajah Mada untuk menangkap Raja Mayadenawa. Penyerangan dilakukan dari dua sisi, yaitu utara dan selatan. Pasukan di sisi selatan dipimpin oleh Arya Damar, sedangkan sisi utara dipimpin oleh Gajah Mada.
- [UJ] Arya Damar berhasil mengalahkan Ki Pasung Giri, patih Raja Mayadenawa. Namun karena kesalahpahaman, Gajah Mada tidak tampak melakukan penyerangan dari sisi utara. Raja Mayadenawa belum berhasil dikalahkan.
- [UJ] Terjadi rekonsiliasi antara Arya Damar dan Gajah Mada, kemudian keduanya melaporkan hasil penyerangannya di Bali kepada Baginda Raja Majapahit.
- [UJ] Baginda Raja Majapahit bersama dengan Arya Damar dan Gajah Mada kembali melakukan penyerangan kepada Raja Mayadenawa di Bali. Akan tetapi Raja Mayadenawa tidak dapat dibunuh, melainkan diceritakan moksa.
- [UJ] Setelah hilangnya Raja Mayadenawa, dilakukan penyucian Pulau Bali yang ditandai dengan didirikannya pura suci di Gelgel, Tusan, dan Besakih.
- [UJ] Atas jasa besarnya dalam merebut kembali Pulau Bali, Arya Damar beserta kerabatnya diberi kepercayaan untuk memimpin Pulau Bali. Tidak diceritakan masa damai yang terjadi setelahnya. Naskah UJ terpotong dengan munculnya malapetaka di Pulau Bali yang hanya dapat ditanggulangi dengan bantuan dari Majapahit.
- [UB] Raja Mayadenawa diceritakan kembali membangun pasukannya dan menguasai Bali.
- [UB] Mendengar akan kemunculan Raja Mayadenawa, Kahyangan di Mahameru Majapahit mengutus Bhatara Indra. Diceritakan perang yang terjadi antara kubu Jawa dengan Bali, yang dilanjutkan dengan pengejaran Raja Mayadenawa dan patihnya.
- [UB] Akhirnya Raja Mayadenawa berhasil dibunuh oleh Bhatara Indra. Lokasi kematiannya diceritakan menjadi daerah terkutuk yang tidak boleh dikunjungi siapa pun.
- [UB] Bhatara Indra memberikan wejangan dan perintah-perintah agama untuk diikuti seluruh masyarakat Bali sebelum kembali ke Mahameru.
Kedua naskah tersebut lebih bernuansa Bali ketimbang Jawa, ditandai dengan rincian cerita yang lebih menonjolkan nama tokoh dan tempat di Bali. Adapun yang beririsan dengan sejarah Jawa adalah Patih Gajah Mada, Mpu Kuturan, dan “Baginda Raja Majapahit” yang tidak disebutkan secara spesifik.
Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa Usana Jawa dan Usana Bali ini bersumber dari tradisi tutur atau ingatan kolektif kalangan istana. Yang kemudian pada satu masa, ada beberapa pujangga di lingkungan keraton yang mendokumentasikan tutur tersebut menjadi lontar Usana Jawa dan Usana Bali.
Perbandingan dengan Kakawin Mayantaka
Usai membaca kedua naskah ini, saya justru teringat dengan Kakawin Mayantaka yang memiliki kemiripan dengan Usana Bali. Kemiripannya terletak pada poin-poin berikut.
- Maya dalam Kakawin Mayantaka mirip dengan sosok Mayadenawa, kedua nama tersebut mengandung kata “maya”.
- Bhatara Indra diutus untuk mengalahkan Maya atau Mayadenawa.
- Muncul tokoh Dewi Danu (saudari Dewa Putrajaya) di Usana Bali, sedangkan Dewi Danu adalah dari golongan daksa.
- Dalam Kakawin Mayantaka, Dewi Danu menikah dengan Begawan Kasyapa kemudian melahirkan Maya. Sedangkan di Usana Bali tidak diketahui hubungan kekerabatan antara Dewi Danu dengan Mayadenawa.
- Tirta Empul diceritakan sebagai tempat peristirahatan Bhatara Indra dan pasukannya. Dalam Usana Bali, Tirta Empul dimurnikan kembali setelah diracun oleh Patih Kalawong.
- Sungai Patanu atau Toya Patanu diceritakan sebagai tempat terkutuk tempat darah Mayadenawa mengalir setelah dibunuh.
Berdasarkan ulasan singkat dari naskah-naskah di atas, maka kita dapat menemukan bahwa hubungan yang terbentuk Bali dan Majapahit sangat mendalam.
- Secara diplomatik ditunjukkan dengan adanya bantuan militer Majapahit untuk meredamkan kejahatan Mayadenawa di Bali.
- Secara spiritual, Majapahit mengutus kaum brahmana untuk menjadi pemuka agama dan pengajar ritus-ritus Hindu.
- Adanya hubungan kekeluargaan, di mana keluarga kerajaan Majapahit menikah dengan keluarga kerajaan di Bali.
Demikian pembahasan kitab Usana dan Kakawin yang menceritakan leluhur raja-raja Bali, semoga bermanfaat.
Sumber data:
Artikel ini telah tayang di Deuteronomi (Medium).
Referensi:
- Agastia, IBG. 2018. Karya Sastra Filsafat Kakawin Mayantaka Karya Danghyang Nirartha. Dharmasabha: Taman Sastra Wagiswari.
- Anthasa, Nyoman, dkk. 2008. Usana Jawa dan Usana Bali. Singaraja: UPTD Gedong Kirtya.