Lewati ke isi

Karya-karya Mpu Tanakung

Di taman itu, dia meninggalkan mantan kekasihnya sendirian saja. Jiwa dan raga mereka bertemu, namun tidak dengan restu. Sang Perempuan pujaan hatinya telah menikah dengan pilihan orang tuanya.

Disibakkannya kain wastra sederhana yang dia kenakan. Ikat kepalanya dikencangkan, seraya melangkah pelan dan mantap menuju asramanya di atas gunung.

Dipilihnya nama Tan-Akung, yang artinya “tanpa cinta”. Nama yang kemudian menyurutkan nama aslinya, namun membesarkannya sebagai Pujangga Agung Majapahit.

Ilustrasi Tanakung

Setelah membaca syair-syair zaman dulu, jujur, saya terpesona oleh Mpu Tanakung. Daya tarik yang dia torehkan dalam karya sastra kakawin gubahannya, menyimpan jejak air matanya sendiri, menyiratkan duka yang diolahnya untuk membangkitkan hasrat dalam jiwa pendengarnya.

Sebagai pujangga besar, Tanakung menggubah setidaknya 10 kakawin — yang berhasil ditemukan hingga kini~mungkin saja lebih dari itu. Kakawin-kakawin itu antara lain:

  • Siwaratrikalpa (Lubdhaka)
  • Wrettasancaya.
  • Banawa Sekar.
  • (Bhasa) Sadanayoga.
  • (Bhasa) Amretamasa.
  • (Bhasa) Sangutangis.
  • (Bhasa) Kinalisan.
  • (Bhasa) Tanakung.
  • (Bhasa) Gumiringsing.
  • Patibrata atau Udyalaka.

Catatan: Bhasa adalah kakawin yang relatif pendek.

Dalam batinnya, dia bergumam,

“Perkenankan daku menempuh jalan itu sendirian saja.”

Artikel ini telah tayang di Deuteronomi (Medium).


Senarai Karya Mpu Tanakung