Lewati ke isi

Prasasti Tugu

Prasasti Tugu, 2014

Prasasti Tugu berisi informasi tentang pembuatan Sungai Candrabaga dan Gomati oleh Raja Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya. Penggalian kedua sungai ini dilakukan untuk menghindari banjir yang terjadi sekaligus menampung cadangan air di musim kemarau.

Data Artefak

Nomor: D.124
Jenis: Prasasti
Tahun: Abad ke-5 M
Aksara: Pallawa
Bahasa: Sanskerta
Lokasi: Desa Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, DKI Jakarta
Sekarang: Museum Nasional Indonesia

Inskripsi

# Pallawa Latin
1
ꦥꦸꦫꦴꦫꦴꦗꦴꦣꦶꦫꦴꦗꦺꦤꦒꦸꦫꦸꦟꦴꦥꦷꦤꦧꦴꦲꦸꦤꦴꦑꦴꦠꦴꦑꦾꦴꦠꦴꦁꦥꦸꦫꦷꦁꦥꦿꦴꦥꦾꦕꦤ꧀ꦢꦿꦨꦴꦒꦴꦂꦟ꧀ꦟꦮꦁꦪꦪꦻꦴ
purā rājādhirājena guruṇā pīna bāhunā khātā khyātāƞ purīƞ prāpya candrabhāgārṇṇawaƞ yayau
2
ꦥꦿꦮꦂꦢ꧀ꦣꦩꦴꦤꦢ꧀ꦮꦴꦮꦶꦔ꧀ꦯꦢ꧀ꦮꦠ꧀ꦱꦫꦯꦿꦷꦒꦸꦟꦻꦴꦗꦱꦴꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿꦣ꧀ꦮꦗꦨꦴꦠꦺꦤꦯꦿꦷꦩꦠꦴꦥꦹꦂꦟ꧀ꦟꦮꦂꦩ꧀ꦩꦟꦺꦴ
prawarddhamāna dwāwiṅśad watsara śrī-guṇaujasā narendra dhwaja bhātena śrīmatā pūrṇṇawarmmaṇo
3
ꦥꦿꦴꦫꦨꦾꦦꦴꦭ꧀ꦒꦸꦟꦺꦩꦴꦱꦺꦑꦴꦠꦴꦏꦽꦰ꧀ꦟꦴꦰ꧀ꦛꦩꦷꦠꦶꦡꦻꦴꦕꦻꦠꦿꦯꦸꦏ꧀ꦭꦠꦿꦪꦺꦴꦢꦯꦾꦴꦩ꧀ꦢꦶꦤꦻꦱ꧀ꦱꦶꦢ꧀ꦣꦻꦏꦮꦶꦔ꧀ꦯꦏꦻꦃ
prārabhya phālguṇe māse khātā kṛṣṇāṣṭamī-tithau caitra śukla trayodaśyām dinais siddhaikawi ṅ śakai[ḥ]
4
ꦲꦴꦪꦠꦴꦰꦛ꧀ꦱꦲꦱꦿꦺꦟꦣꦤꦸꦰꦴꦁꦱꦯꦠꦺꦤꦕꦢ꧀ꦮꦴꦮꦶꦔ꧀ꦯꦺꦤꦤꦢꦷꦫꦩꦾꦴꦒꦺꦴꦩꦠꦷꦤꦶꦂꦩꦭꦺꦴꦢꦏꦴ
āyatā ṣaṭ-sahasreṇa dhanuṣā[ƞ] saśatena ca dwāwiṅśena nadī ramyā gomatī nirmalodakā
5
ꦥꦶꦠꦴꦩꦲꦱꦾꦫꦴꦗꦂꦰꦺꦂꦮ꧀ꦮꦶꦢꦴꦂꦪꦾꦯꦶꦧꦶꦫꦴꦮꦤꦶꦩ꧀ꦧꦿꦴꦲ꧀ꦩꦟꦻꦂꦒꦺꦴꦱꦲꦱꦿꦺꦤꦴꦥꦿꦪꦴꦠꦶꦏꦽꦠꦢꦏ꧀ꦰꦶꦟꦴ
pitāmahasya rājarṣer wwidāryya śibirāwani[m] brāhmaṇair go-sahasrenā prayāti kṛta dakṣiṇā

ꦥꦸꦫꦴꦫꦴꦗꦴꦣꦶꦫꦴꦗꦺꦤꦒꦸꦫꦸꦟꦴꦥꦷꦤꦧꦴꦲꦸꦤꦴꦑꦴꦠꦴꦑꦾꦴꦠꦴꦁꦥꦸꦫꦷꦁꦥꦿꦴꦥꦾꦕꦤ꧀ꦢꦿꦨꦴꦒꦴꦂꦟ꧀ꦟꦮꦁꦪꦪꦻꦴ
ꦥꦿꦮꦂꦢ꧀ꦣꦩꦴꦤꦢ꧀ꦮꦴꦮꦶꦔ꧀ꦯꦢ꧀ꦮꦠ꧀ꦱꦫꦯꦿꦷꦒꦸꦟꦻꦴꦗꦱꦴꦤꦫꦺꦤ꧀ꦢꦿꦣ꧀ꦮꦗꦨꦴꦠꦺꦤꦯꦿꦷꦩꦠꦴꦥꦹꦂꦟ꧀ꦟꦮꦂꦩ꧀ꦩꦟꦺꦴ
ꦥꦿꦴꦫꦨꦾꦦꦴꦭ꧀ꦒꦸꦟꦺꦩꦴꦱꦺꦑꦴꦠꦴꦏꦽꦰ꧀ꦟꦴꦰ꧀ꦛꦩꦷꦠꦶꦡꦻꦴꦕꦻꦠꦿꦯꦸꦏ꧀ꦭꦠꦿꦪꦺꦴꦢꦯꦾꦴꦩ꧀ꦢꦶꦤꦻꦱ꧀ꦱꦶꦢ꧀ꦣꦻꦏꦮꦶꦔ꧀ꦯꦏꦻꦃ
ꦲꦴꦪꦠꦴꦰꦛ꧀ꦱꦲꦱꦿꦺꦟꦣꦤꦸꦰꦴꦁꦱꦯꦠꦺꦤꦕꦢ꧀ꦮꦴꦮꦶꦔ꧀ꦯꦺꦤꦤꦢꦷꦫꦩꦾꦴꦒꦺꦴꦩꦠꦷꦤꦶꦂꦩꦭꦺꦴꦢꦏꦴ
ꦥꦶꦠꦴꦩꦲꦱꦾꦫꦴꦗꦂꦰꦺꦂꦮ꧀ꦮꦶꦢꦴꦂꦪꦾꦯꦶꦧꦶꦫꦴꦮꦤꦶꦩ꧀ꦧꦿꦴꦲ꧀ꦩꦟꦻꦂꦒꦺꦴꦱꦲꦱꦿꦺꦤꦴꦥꦿꦪꦴꦠꦶꦏꦽꦠꦢꦏ꧀ꦰꦶꦟꦴ

Terjemahan Bebas

Dahulu sungai yang bernama Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan yang memiliki lengan kencang serta kuat yakni Purnawarman, untuk mengalirkannya ke laut, setelah parit ini sampai di istana kerajaan yang termashur.

Pada tahun ke-22 dari tahta Yang Mulia Raja Purnawarman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya, serta menjadi panji-panji segala raja-raja, [maka sekarang] dia pun menitahkan pula menggali parit yang permai dan berair jernih Gomati namanya, setelah parit tersebut mengalir melintas di tengah-tengah tanah kediaman Yang Mulia Sang Pendeta Nenekda [dari Raja Purnawarman].

Pekerjaan ini dimulai pada hari baik, tanggal 8 paruh gelap bulan dan disudahi pada hari tanggal ke 13 paruh terang bulan Caitra, jadi hanya berlangsung 21 hari lamanya, sedangkan parit tersebut panjangnya 6122 busur.

Upacara selamatan untuk menghormatinya dilakukan oleh para Brahmana disertai dengan hadiah 1000 ekor sapi.


Referensi:

  • Vogel, Jean Philippe (1925). The Earliest Sanskrit Inscriptions of Java.