Sanghyang Swawar Cinta
Sanghyang Swawar Cinta berisi rajah panjang serta petunjuk peribadatan dan tapa. Naskah ini adalah satu-satunya naskah Sunda Kuno yang memiliki ilustrasi berupa gambar ular dan manusia.
Manuskrip & Publikasi
Sanghyang Swawar Cinta
(Terjemahan Tien Wartini, dkk)
Ingatan, pikiran, dan angan-angan,
di Sanghyang Swawarcinta,
di dalam ketiadaan,
mulai keluar kepada dunia nyata,
keluar dari mata dan telinga,
keluar bayu dari mulut,
keluar sabda dari rasa,
turun dari untaian sair kuna,
keluar dari pustaka sejati.
Hasil saripati pengetahuan,
muncul dari keabadian sejati,
kesempurnaan keabadian tertinggi.
Tepatlah engkau hai pembaca,
mengucapkan pengetahuan,
keluar wewangian dari asal kejadian,
yang disebut kemurnian asal,
keaslian daripada aji.
Aum, guru dewananta,
niti jati menyembah sang Karopitu,
ketujuh Sanghyang Hayu.
Hamba sama-sama bersuka cita.
Sebagai awal kami berkata,
sebagai asal kami bersabda,
bersaksi pada siang dan malam,
kepada jagat dunia semesta.
Kami titipkan diri,
kami akan meminta izin bercerita,
mengeluarkan kewacanaan,
karena dari situlah asalnya.
Batara Wenang Wisesa sempurna,
Batari Wenang yang sakti,
Batara Bayu yang mendengar,
anganlah tidak mendengar suaraku.
Suaraku sekarang ini,
haruslah menerimanya,
barangkali salah kata,
barangkali salah sebut,
barangkali salah ucap,
sabdaku pindah ke tulisan,
sabdaku pindah ke mantra,
suaraku pindah ke asap dupa.
Sukacitalah batinnya.
Semoga sampai lebih dari itu.
Bimbingan dan ampunan,
sebagai awal kami berkata,
sebagai asal kami bersabda,
permohonan izin kami kepada yang mulia,
(Yang) Sempurna yang Mahasempurna,
Yang Sakti yang Mahasakti.
Kepada Hyang Nalikajantra yang bernama siang,
kepada Hyang Nalikajantra yang bernama malam,
kami mohon izin membakar dupa,
malai melwa malai cendana,
kigugula sulur batara,
serta kulit cempedak,
diselingi kulit langsat,
usar dan jamaka,
jungateup dan halihair,
dicampur dengan tenjomaya,
dipadukan dengan kemenyan merah,
ditaburi kemenyan putih.
Bijih emas kalau ada supaya terasa,
membubung asap ke angkasa,
semoga tercium oleh Sunan Ambu,
segala jenis aroma yang wangi di dunia.
Kalau asap condong ke timur,
masuklah ke warna putih,
tempat Hyang Iswara.
Kalau asap condong ke utara,
masuklah ke warna hitam,
tempatnya Hyang Wisnu.
Kalau asap condong ke barat,
masuklah ke warna kuning,
tempat Hyang Mahadewa.
Kalau asap condong ke selatan,
masuklah ke warna merah,
kesorgaan Hyang Brahma.
Kalau sampai ke atas,
masuklah ke empat warna,
kesorgaan Hyang Siwa.
Ke atas kepada sang Rumuhun,
kepada sang Mangambang sang Mangambung,
kepada sang Patih Warahdesa,
terus datang ke ketiadaan,
puncak sanghyang angkasa.
Ke ujung lengkungan langit,
puncak sanghyang angkasa,
payung alas payung desa,
yang disebut payung bwana,
memayungi manusia sejagat.
Kalaulah datang ke situ, asap dupa kami menjadi kabut, menjadi awan hitam dan mendung, menjadi mega pertanda hujan
Kalau jatuh ke tanah, menjadi gundukan tanah subur, menjadi tanah kaputihan, menjadi tanah sanghyang.
Kalau jatuh ke batu, menjadi batu untuk lingga, candi merah candi putih, menjadi batu sanghyang.
Kalau jatuh ke air, menjadi air suci untuk membasahi. yaitu deretan Cihaliwung, namanya Sanghyang Talagawarna. Diambil oleh anak laki-laki, dibawa dalam dandang Tuban, digendong dengan boeh larang, diiringi dengan tetabuhan, gong kuning dan gangsa lari, untuk mencegah bencana dasamala (sepuluh noda), untuk meruat dasakalesa (sepuluh keadaan kotor), begitulah ketentuannya.
Kalau jatuh pada kayu, tunas dan benih tumbuh, tanaman semuanya berbuah, menjadi subur dan sehat, menjadi besar dan tinggi, akarnya besar batangnya lurus, rantingnya rimbun dahannya banyak. Bunganya harum buahnya manis, Begitulah ketentuannya.
Demikian pula kalau jatuh kepada segala binatang, baik besar maupun kecil. Kalau jatuh kepada kancil, kancil putih rajapeni, celeng kuping singa salat, yaitu rajapeni, lembu lilin rajapeni, badak putih rajapeni, gajah putih rajapeni, tunggangan sang prabu. Begitulah ketentuannya.
Demikian pula kalau jatuh kepada anak laki-laki, Menjadi gemuk dan sehat, menjadi besar dan tinggi, kekar paha kukuh betisnya, jemarinya lancip dan panjang, kukunya bersih panjang dan berkilauan, kuning langsat memikat gadis, pengiring Sanghyang Kalih, pengawal para pangeran. Sebaik-baiknya lelaki, astura asturi teriakannya. Begitulah ketentuannya.
Demikian pula kalau jatuh kepada anak perempuan, menjadi gemuk dan sehat, mulus tinggi cantik molek, montok indah seperti daun muda, ranum pipinya tebal rambutnya, montok tinggi dan kuning, kulitnya bersih tanpa bulu. Kayu hapit, karawalea, pandai menyongket di waktu gelap, pandai neuleum di waktu malam, pandai memintal di waktu siang, meubeur, nuar, neuleum, nyangkuduan, tenunan kembang kapuk dan kembang gadung, ngoneng, ngayen, ngasumba, merebus lalab menggulai ayam, merapihkan benang lusi.
Setelah kagum oleh semua itu, kemudian terampil memasak: ikan paray dikembang lopang, udang dimasak kembang dadap, ikan hitu dipepes gosong, ikan lendi dipepes bari, ikan lele dibumbu cobek, ikan gabus dipanjel-panjel, ikan hikeu dileuleunjeur, ikan kancra dilaksa-laksa, sisiknya dibuat raramandi, tulangnya dibatu rangu, siripnya dirokotoy. Ayam putih dipadamara, ayam merah disarengseng, ayam cangkes diketrik, ayam burik dipepes bari, ayam dara dibumbu pecel, ayam betina dipanggang, ayam kurung dikudupung, ayam liar disaraten, ayam kebiri dikasi, kesukaan sang suami.
Kemudian nyanga nyanglarkeun, ngamumujet ngararamandi, membuat rarageding, membuat sate untuk raraka hudan, membuat sate usap-usap lambe, membuat sate pawarang lunta, membuat sate ugang-aging. Itulah kepandaian wanita, begitulah ketentuannya.
Semoga tembus ke bawah, Ke si nugraha kepada Pwa Basuka Basuki, Kepada Batara Nagaraja, kepada sang Patih Warahdesa, kepada yang mulia Awak Larang, yang menyangga bumi, yang mulia wenang di bawah, kepada sanghyang Digdig Herang, ke utara selatan barat timur. Sanghyang Sumaradana, catur alas catur desa, disebut catur mandala, menerangi buana, tua serta muda, sempurna selamat makmur cantik, para bujangga yang mengatur, pada bulan ketujuh, pada bulan rahasia, di dalam rumah Manikmaya, pada pancatiga ajyana.
Menuntun Sanghyang Hurip, membimbing Sanghyang Atma, merangkul Sanghyang Hayu.
Pertama-tama sang pandita, membuat sesaji bayu sabda hidep, memusatkan pikiran yang suci, mengharumkan hidup orang sedunia, kehinaan dalam kedudukan. Demikian. Mohon maaf
Ongkara Nama Sihwaya. Nasihat dalam Siksakandang. Hiduplah, jadilah seluruh kelakuan. Pujian keluar dari aji: Namaste namas karana. Namastu namas Sihwaya
Bunga tunjung bunga suci, di Sanghyang Pawinduan, di Sanghyang Asri Kuning, di Sanghyang Asri Bwana, di Sanghyang Cintamanik, nyata tampak sekarang.
Sedikit-sedikit minta maaf, seolah-olah mundur, gembira menggembirakan. Si Kapanggangan dan si Katiwasan, bodoh, penidur, tolol, dungu berdiri dalam kebodohan, bersandar pada kelalaian. Tipis keyakinan kepada dewa, Lemah .... Terus dihinggapi penyakit si penidur, tertutup oleh si lupa, terbelenggu oleh ketamakan. Tidak diwarisi oleh ilmu pengetahuan, langgeng berprilaku manusia.
Sekarang berbahagia lagi, dengan perasaan kami, Anakku akan belajar, mengeluarkan kewacanaan, oleh tingkah kami, Anakku. Belajarlah dengan kesenangan. Jangan tergesa-gesa dan acuh tak acuh, menganggap mudah dan ugal-ugalan. Ucapan, kelakuan, tingkah, malu. Terdesak oleh pemikiran.
Mengeluarkan aji, sedikit sepatah seloka. Sekarang mengeluarkan kewacanaan, oleh perasaan tidak ditemukan, pada keampuhan gurulagu, tindak tanduk dan tutur kata yang baik, teratur, kebajikan, berpandangan lurus. simpul, tali, ukuran, alat, penggaris untuk meluruskan titik, angka dan baris.
Tahap-tahapan aturan, dengan perasaan kami mengeluarkan bayu, tutup ucapan dari mulut, pikiran dari angan-angan.
Bayu mungkin tidak terasa. Sabda mungkin tidak terdengar. Hidep mungkin tak terbayangkan. Supaya kaget supaya terkejut. Supaya ringan bernapas, supaya lega sanghyang ajnyana.
Bila tidak mengena pada pikiran. Sukar merahasiakan, lingga batu pemujaan. Menggoyang tiang ranjang ribut, dan tersingkap kain terabaikan. Putuslah tali ayunan, tergoyang-goyang pancangnya. Keruh danau kabuyutan, beriak telaga sanghiang.
Tidak mengena pada pikiran, sehingga sulit dirahasiakan. Cekunglah hasil meratakan. Kusutlah hasil membereskan, berhamburan hasil mengumpulkan, bocor hasil menampung, kurang hasil yang memulai, jarang hasil merapatkan, hilang hasil menyamakan, hilang hasil meneliti, tertutup dari nasehat, kasar hasil menghaluskan, merapihkan, meluruskan, mengeraskan, menakar, ngelék, mengukur, kepada yang jauh dan dekat tercerai dan terpisahkan, terbagi dua terbagi tiga, terhalangi dan tergagalkan, dengan kekuatan budi cipta, serta pikir dengan pemikirannya, barangkali salah memahami pepatah, sama-sama memaklumi, karena ingin mencapai tujuan.
Akan belajar menyadari keragu-raguan. Akan belajar mengeluarkan pengetahuan, bayu sejuk dingin sempurna, wangi harum semerbak indah, dewa turun dari ayunan, menitiskan ia kepada binatang, supaya lama terangnya, lama hidup lama berbakti, hanya untuk kecerahan pikiran kami.
Anakku, sama-sama memaklumi, dengan perasaan mengeluarkan sabda, karena ingin mencapai keinginan, membukakan mata, akan mengeluarkannya, yaitu sabda yang menjadi ajaran, sabda kasih sabda yang benar, mantra-mantra yang mahamulia, sabda dari kemurnian kesucian, sabda dari sang pandita, kepada sang Sewaka Darma.
Mengeluarkan sabda kebaikan, sabda dan laku yang menyenangkan, sabda yang bagus dan murni, sabda yang tenang jnyana tenang, ambek yang tenang, karma yang tenang, buda pasanta, budi pasanta, hanya hati tidak akan dikeluarkan. Sabda yang lemah-lembut, manis harum, terlihat mempesona, lebih wangi daripada candu, lebih semerbak dari cendana, sejuk dingin sempurna.
Sabda jernih hati bening, disertai ucapan yang baik, dipayungi pikiran yang senang, dengan perasaan kami, Anakku. Tidak mendapat hasil mendengar, kurang hasil melatih diri, mendirikan sila setia bakti, mengabdi memuja yang sejati. Puputut, noweca, ameng-ameng, yogiswara, tetega dan dewaguru, raja serta ungguwalaka, wasi dan para manguyu, teristimewa para mahapandita, paramasuk, paratutup, para walakan, patangkilan, kian mengena kepada sang jatiwarah, hal memalukan diperbuat, karena perbuatan yang melanggar, takut turun ke dunia, kurang bertanya kepada Siwageni, melakukan sila pagi sore, ketika siang hari, makin lama makin bodoh, makin lama makin celaka, lama-lama memakan cacah, lama-lama memakan talas, tidak punya kemampuan.
Kalaupun bisa hanya lalatangan. Kalaupun tahu hanya bobocokan. Takut mengamalkan perbuatan baik, barangkali diuji dengan pertanyaan, mendapat giliran pertama, malu mengatakannya.
Sadarlah! Bagaimana akan bisa, karena bukan tujuan, karena terbuai oleh kesenangan, terbawa oleh godaan, tergoda oleh penampilan, kurang bertanya kurang menyapa, kurang bertanya kepada Siwageni, mendirikan sila pagi dan sore, dinihari tengah malam, pagi-pagi serta siang.
Semakin terenggut dan terlewat. Semakin tersisih dan terpinggirkan, yang diteliti dan dipelajari makin musnah, yang dicari makin hilang, yang dinasihatkan tersamar, terhalang oleh kecacatan, tertutupi oleh aneka warna.
Sama-sama memaklumi kami. Anakku, tidak terlihat, dalam membela diri, tertutup oleh si lupa, terbelenggu oleh ketamakan, gelap gulita dan malu, tertipu dan hilang ingatan, tolol, bingung, dungu, celaka, terbelit oleh jerat dosa, terselubung oleh keinginan, banyak makan banyak minum. Memperhatikan terangnya siang, dengan rasa tidak dapat merasakan siang.
Pikiran dan kesadaran, buana dengan jasmani, memadukan bayu sabda hidep.
Waktu malam tak merenungi, terbawa oleh kelelapan tidur, dengan jiwa menghibur, masuk keluar datang pergi, terang gelap ditidurkan, datang siang tidak dapat berjemur, terbawa oleh sipat kasar, tak tercapai tak terkejar, tak terlacak tak termiliki, tak menemukan dan menangkap sipat halus karena bukan tujuan.
Ucapan untuk segala pengakuan. tidak ada panca aksara-nya. Sudah terenggut dan terlewat. Sudah tersisih dan terpinggirkan, Terlewat dan terlampaui. Sama-sama memaklumi.
Anakku, janganlah tipis ramping bolong berlekuk. Jelas terang benderang, dengan rasa kurang lengah, tidak cermat dan tidak teliti.
Pada isi tulisan kabuyutan, kurang pandai menyusunnya, di dalam pikiran sendiri, pada sanghyang Tatoajnyana karena tabu yang ditabukan.
Janganlah mengejek, menggelitik. Janganlah menyalahkan dan menghina, kepada paramuha para pandita, juga kepada yang mengajar dan mendidik, demikian pula kepada ibu, ayah, dan guru, lebih-lebih kepada sang jatiwarah.
Karena memang sudah tertuliskan tersuratkan, pada gebang pada lontar, lipatan dan gulungan, ditulis dengan pena hitam, terhampar tergelar tulisan, isi sanghyang pustaka. Bukan cerita hiasan, bukan karangan palsu, karangan jaman dahulu, catatan peristiwa masa lalu. Siksa Kandang, Siksa Kudang, Siksa Kurung, Siksa Dapur, dan Darmasiksa Pangwereg, dan menangis berdiri semalaman, Bujangga Manik tidak sakit, dan kenangan pikiranku, di Manik Sawéstra, serta Sanghiyang Ajnyana, gas ngati man. ding kataniya ? serta Adisasana Manondari Agunglarang, Tato di Sri Wano, tarik timbang dan kenanganku, sorodong di rat, Boma dengan Ramayana, Korawa dan Adiparwa, Angdégaparwa, Dornaparwa, Santiparwa, Satyaparwa, Karnaparwa, Sorgaparwa, serta Agasti Sarwatuti, dengan Cakrawati, serta Sowérapatra, Salakat dan Sarwatuti, Kontara dan Rajanata, Tanjali dan Cakrarohawati, Punggawa dan Bimasorga, Wiwaha dan Pandawa Jaya, Kangkus dengan Aci Puresanapala, serta Ratu Asihan, Pauitan, Paramademit, Danansri, Ugan Pagoyan, Tunduk serta Pakedutan, Cacandén dan Kararangsén. Tahampékan, Babaheuman, yang mengisi binaya panti, Patikrama, Madangkulan, isi Raja Kapa-kapa, Tataan Sanghiyang Medang, serta Waruganna Pakwa, Patra dengan Darmasonya, Rudamala dan Askara, Mangleuwi, Darmapretuti, Darmawéya, Padonaan, Pageni Mangbang Kamalé, Prebokta, Putrewisésa, Kukumba, Mahapawitra, Bubuksah, Parahiyangan, Mahabungku, Medang Tangtu, Jarini dan Candrageni, Sumana dan Darmasasana, dengan Pagagadan, Purbatisti, Purbajati, Sri Wano Dremakusumah, Sri Manggala Mahapadma serta Tatwa Anyjana, Budi Keling, Gagang Aking, Budi Cipta, Indranata, Serta Kunjarakarna, Demikian pula, Hurip-huripan, serta Sri Mahaguru, Sagelar Sanghyang Wayang, keluar di Buana Pitu, serta Sri Mageung, tercapailah Darmajati, itu yang disucikan, bagian dalam sang wiku, pertolongan sang pandita, tempat menyimpan senjata, pemadam kesombongan, karena itu kisah sang sida karuhun, amanat sang sida sukma, peringatan sang sida lenyep, dan sang sida hiyang (aj)nyana, sang sida hiya(ng) widasara, ajaran hiyang yugisora, bumi kecil bumi dekat,
sri hiyang semua sudah menjadi hidup, ketentuan pengetahuan dari Sunda, sanghiyang Sumaradana, catur alas catur desa, yang disebut catur buana, yaitu utara selatan barat timur, sanghiyang hanteu sanghiyang biheung, bukan itu namanya, hidup di sanghiyang pratiwi, cahaya sanghiyang angkasa, kekasih sanghiyang alas, mutiara di kabuyutan, namanya isi bumi, disimpan di dalam raga, untuk menghidupi masa, akan berhenti … baik, terpental pada bulan kasa, terlepas pada bulan karo, meninggalkan raga pada bulan katiga, lenyap pada bulan kapat, habis pada bulan kalima, padam di bulan kanem, pergi di bulan kapitu, … di bulan … … di bulan kasapuluh.
Karena dia penjelmaannya, titisan dari sang pandita, kepada sang sewaka darma.
Bunga tepus tunas tebu, tali temali tidak putus. Yang disuruh dipelajari didalami, dipahami dipikirkan, pada sabda pada pemikiran, pada air muka pada pengetahuan, pada tingkah laku yang tidak tetap, dia akan dilindungi, malas dia (sehingga) gagal, sebatang kara tidak ada tempat bersandar, bunyi genta pun tidak terdengar. Ikatan putus, cerita mahapandita, amanat yang mulia terdahulu. Tetapi tidak akan terlacak terpahami, tak tergapai tak tercapai, tak terkejar tak terlihat. Terlaksana amanat yang mulia terdahulu.
Sama-sama memaklumi. Dengan perasaan kami, Anakku. Meluapkan kegembiraan, ke hadapan sang pandita.
Kasar dan tergesa-gesa, sering lekas naik darah dan pemarah. Memetik pengetahuan jauh pandangan, meloncat jauh dua langkah, tegaklah yang tergoncang pengetahuan, tidak bisa menyampaikan sabda rahayu, mengidamkan suara yang sempurna, mengungkapkan tutur kata yang baik, sama-sama memaklumi, Demikian. Maaf.
Sekarang menuju kebahagiaan. Ada beberapa larik, satu titik angka dan baris. Satu tahap untuk berjalan, datang bersama-sama.
Ada yang ditutupi, bergores ucapan satu baris, berbekas suara satu kata, penutup sekar lepana, penyerta ucapan yang mulia, penyaring suara yang baik, penawar ucapan yang congkak, akan menyampaikan persembahan, mengumpulkan hasil memetik, dedaunan dan bebungaan, parepe parepe ranting kering, gancang ilalang pengisi alam semesta, untuk menghaturkan bunga, bunga rampai sesaji diangsurkan, ditaburi bunga-bungaan, pahatan ukir-ukiran, daun kalapa dibentuk bunga, ditiru seperti burung, dibentuk seperti merak, kupat halu kupat manuk, dengan kupat parupuyupan, kupat walang kupat iwak, hinggap di rumput palias, hiasan kain bunga padi, wuku-waka kurung atma, Kupat karas bunga picung. Rumbai-rumbai daun jahe. Pedupaan pucuk rebung. Bunga tunjung paksi aman, penunggu kelahiran kembali. Sesajian sekar putri. Rotan membelit periuk, sutra tipis dihamparkan, daun dibentuk hiasan, sejengkal sajian diangsurkan, digigit oleh kera hitam, dilapisi dengan selembar daluang. Disirami oleh sanghiyang dewa tiga anawasta, Dilindungi sanghiyang tiga ajnyana. Sirih, kapur, dengan pinang, serta setangkai bunga.
Lemas layu lemah lunglai, paré parépé rangrang gancang, hareucang carang coréngcang, tidak subur tidak berbiak, bunga layu, gersang kering, buah kerdil serta mengering, pendek kecil dan kerontang, terjemur dan rupanya jelek, compang-camping tercabik-cabik, memburukkan menyepelekan. menghina dan menjelekkan.
Tentu saja sama-sama bisa, dengan perasaan kami menghadapkan dia, kepada sang pandita. Barangkali menungging mencangkung, barangkali membelakangi menghalangi. Tidak tetap tidak benar, tidak seimbang tidak cukup, tidak lurus pikirannya.
Selanjutnya hasil kami menyusun, kusut masai kacau-balau, terbalik dan bersilangan, menyerong dan menghalangi, berhamburan berserakan, bercampur baur, tidak jelas ujung pangkalnya, dari atas tidak jelas pucuknya, dari bawah tidak jelas pohonnya,
di tengah tidak jelas batang kayunya, tidak rata dan tidak lurus, tidak teratur dan tidak rapih tidak cukup menjadi batang kayu, terlihat kering bekas ditebas, sang pandita tidak khawatir, merubuhkan menurunkan, menggeserkan kesucian. Memindahkan kebajikan, merusak keutamaan, dengan rasa dari dahulu ada.
Sekarang kebodohan diperbaiki, pikiran pada yang utama, menghilangkan rintangan, dengan rasa tidak akan tahu, pada keindahan dan kemuliaan, suara yang mulia dahulu. Sama-sama memaklumi. Lebih-lebih perbuatan sang adangdan, terlampaui terlangkahi, dengan lengan kiri dan kanan, yang menempel pada badan, anugerah sang pandita, kepada sang sewaka darma.
Daluwang kulit kayu, perlengkapan pakaian, cawat, baju, celana, ikat kepala, selempang, bahiri, bulu roma selembar rambut, semakin (banyak?) pengisi, buana dengan badan, terbit air liur dan berkeringat, terperciki terluluri, dengan keringat dari badan, dengan rasa takkan terpilih, terurai tetapi tidak menjadi rata dan tidak rapih, takkan terjaga takkan terpelihara, trikaya mandala parisuda,