Berpetualang ke Pusat Taruma
Di sela-sela waktu libur, saya menyempatkan blusukan ke sejumlah situs yang menjadi saksi bisu keberadaan Taruma, Kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa. Menurut beberapa sumber, wilayah kerajaan ini mencakup sebagian wilayah di Jawa Barat dan Banten. Sementara pusat peradabannya berada di sekitar Ciampea, Kabupaten Bogor.
Bukti mengenai keberadaan kerajaan ini tertuang dalam bentuk prasasti yang diperkirakan ditulis sekitar abad ke-5 Masehi. Dengan mengantongi rasa penasaran akan eksistensi kerajaan ini, maka saya memusatkan kunjungan blusukan ke lokasi prasasti-prasasti tersebut.
Dari Jakarta, saya menginap di rumah seorang kolega di daerah Yasmin, Kota Bogor. Keesokan paginya, kami berdua bermotor menuju ke Ciampea. Tidak butuh waktu lama untuk mencapai lokasi situs ini. Di sana masih terdapat empat situs cagar budaya yang saya jumpai, mana saja situs-situs tersebut?
Prasasti Kebon Kopi I
Prasasti pertama yang saya jumpai adalah Prasasti Kebon Kopi I, yang terletak di samping SD Tenjolaya. Prasasti ini menampilkan dua buah jejak kaki gajah yang mengapit tulisan berhuruf Pallawa di tengah-tengahnya. Tulisan prasasti tersebut dapat diartikan sebagai berikut,
Di sini tampak sepasang tapak kaki yang seperti tapak kaki Airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dalam ... dan kejayaan.
Tidak jauh dari lokasi penemuan prasasti ini, pernah ditemukan prasasti lain yang diberi nama Kebon Kopi II. Namun sayangnya prasasti tersebut hilang dicuri.
Data prasasti:
Situs Watu Dakon

Tidak jauh dari lokasi Prasasti Kebon Kopi, terdapat situs lain yang dikenal sebagai Situs Watu Dakon, karena menyerupai benda permainan tradisional dakon atau congklak. Ada dua buah batu berlubang dan tiga buah menhir.
Data situs: Situs Watu Dakon Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun
Prasasti ini merupakan ikon dari desa ini, yang disebut juga sebagai Prasasti Batu Tulis Ciaruteun. Prasasti ini sering muncul di dalam buku-buku sejarah, difoto bersama seorang warga yang menemukannya.
Dalam prasasti tersebut, terdapat inkripsi beraksara Pallawa yang berarti:
Ini (bekas) dua kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki yang mulia Sang Purnawarman raja di negeri Taruma yang gagah berani di dunia.
Pada tahun 1903, prasasti ini dipindahkan ke lokasi yang lebih aman karena terancam oleh luapan air sungai Ciaruteun. Di tempat inilah, saya berbincang-bincang bersama bapak juru kunci situs. Beliau banyak bercerita mengenai sejarah prasasti-prasasti di daerah ini.
Data prasasti: Prasasti Ciaruteun
Prasasti Muara Cianten
Dari semua batu yang ditemukan di daerah ini, Prasasti Muara Cianten adalah yang paling miris. Karena masih berada di sungai, detil inkripsinya pun mulai aus. Saya hanya bisa melihat goresan mirip sulur ubi di salah satu ujung batu.
Ketika hendak melihat-lihat batu ini, telepon genggam saya nyaris terjatuh ke sungai. Duh!
Data prasasti: Prasasti Muara Cianten
Menuju ke lokasi Situs Ciaruteun
Lokasi situs Ciaruteun tidaklah sulit dijangkau, baik dengan kendaraan umum maupun pribadi. Dengan kendaraan umum, jalur menuju Ciampea dilalui oleh angkot yang warnanya hijau toska (tahun 2014). Namun, saya tetap memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi karena dapat mempermudah blusukan di desa.
Secara administratif, situs-situs ini terletak di Desa Ciaruteun (dulu Kampung Muara), Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Mencari yang Seru dari Fragmen Sejarah
Fragmen sejarah yang terpotong-potong inilah yang menurut saya memiliki daya tarik tersendiri. Entah sengaja atau tidak, missing link sejarah justru membuka luas imajinasi kita ketika membayangkan keberadaan nenek moyang: yang bisa jadi jauh lebih lucu dibandingkan dengan fenomena viral bumi datar.
Contohnya, siapa yang mengira kalau cekungan-cekungan di Watu Dakon itu dipakai untuk pengundian arisan, atau media untuk permainan semacam halma? Atau siapa yang mengira bahwa sulur umbi dapat dikaitkan dengan tradisi membatik Nusantara, tetapi dilakukan di batu?
Maka biarkanlah sejarah itu menceritakan dirinya sendiri, tanpa perlu dibatasi dengan waktu, dibatasi dengan istilah sejarah atau prasejarah, atau dibatasi dengan keyakinan-keyakinan kita saat ini.

Situs-situs Peninggalan Kerajaan Taruma
Prasasti Ciaruteun
Jejak kaki Raja Purnawarman
Prasasti Cidanghiang
Jejak kaki Raja Purnawarman
Prasasti Jambu
Jejak kaki Raja Purnawarman
Prasasti Kebon Kopi
Jejak tapak kaki gajah tunggangan Raja Purnawarman
Prasasti Muara Cianten
Huruf ikal yang belum diketahui artinya
Prasasti Pasir Awi
Jejak kaki (Purnawarman?) dan huruf ikal